Ada sebuah kisah tentang Lao Tzu saat mencari bunga di pasar. Ia bertemu seorang penjual yang sangat pandai berbicara. Kata-katanya lembut, ramah, manis, dan begitu memikat. Bunganya dipuji setinggi langit. Penjual itu tahu bagaimana membuat pembeli nyaman dan percaya.
Lao Tzu tertarik lalu membeli bunga itu. Tetapi setelah ditanam, bunganya ternyata palsu.
Dari situ ia mulai memahami sesuatu.
Bahwa sesuatu yang terlalu indah, terlalu sempurna, terlalu manis, kadang justru menyimpan sesuatu di belakangnya.
Beberapa waktu kemudian ia kembali ke pasar. Kali ini ia bertemu penjual yang berbeda. Orangnya ketus, kaku, tidak ramah, bahkan sedikit kasar. Cara bicaranya pendek-pendek dan tidak nyaman didengar.
“Mau beli ya beli. Tidak ya sudah.”
Tidak ada rayuan.
Tidak ada pencitraan.
Tidak ada usaha membuat nyaman.
Tetapi justru setelah dibeli dan ditanam, bunga itu tumbuh asli.
Dan dari situlah lahir pemahaman:
Kata kata yang indah tidaklah asli, kata kata yang asli tidaklah indah
“Kata-kata yang indah tidak selalu benar. Kata-kata yang benar tidak selalu indah.”
Dalam hidup, manusia sering tertipu oleh kelembutan di permukaan. Ada orang yang begitu sopan, begitu tenang, begitu halus, begitu pandai membawa diri. Ngobrol dengannya terasa nyaman. Kata-katanya tertata. Sikapnya seperti tanpa cela. Hampir tidak ada kekurangan yang terlihat.
Tetapi justru kadang di sanalah jebakannya.
Karena manusia yang terlalu pandai membungkus diri sering menyimpan sisi lain yang tidak terlihat. Ada trik. Ada permainan. Ada topeng. Ada kepentingan. Ada manipulasi yang dibungkus kelembutan.
Mereka tahu bagaimana membuat orang merasa nyaman agar mudah percaya. Mereka tahu kapan harus tersenyum, kapan harus diam, kapan harus terlihat bijaksana, kapan harus terlihat perhatian. Semua terasa begitu sempurna sampai kita lupa bahwa kesempurnaan yang terlalu rapi kadang bukan kejujuran, melainkan hasil latihan bertahun-tahun untuk memainkan peran.
Sedangkan orang yang kasar, keras, ceplas-ceplos, atau bicara tanpa hiasan sering langsung dicap buruk. Padahal belum tentu.
Ada orang yang mulutnya tajam tetapi hatinya bersih. Tidak pandai merayu, tetapi setia. Tidak pandai membungkus kata-kata, tetapi tulus membantu. Tidak nyaman didengar, tetapi nyata saat dibutuhkan.
Orang seperti ini sering kalah di penilaian pertama karena dunia lebih menyukai kemasan daripada isi.
Kita hidup di zaman di mana manusia belajar cara terlihat baik, bukan benar-benar baik. Belajar terlihat bijaksana, bukan benar-benar bijaksana. Belajar terlihat tulus, bukan benar-benar tulus.
Karena itu hidup mengajarkan bahwa kenyamanan tidak selalu berarti ketulusan. Kelembutan tidak selalu berarti kejujuran. Dan sesuatu yang terasa sangat indah belum tentu benar-benar asli.
Bukan berarti semua orang lembut itu palsu atau semua orang kasar itu baik. Tidak sesederhana itu. Tetapi hidup mengajarkan agar kita tidak terlalu cepat tertipu oleh permukaan.
Karena sering kali yang asli justru tidak terlalu terlihat indah.
0 Response to "YANG TERLALU INDAH SERING MENYEMBUNYIKAN SESUATU"
Post a Comment