RUMAHKU SURGAKU
Ungkapan "rumahku surgaku" sering kali hanya dipahami sebagai sebuah bangunan tempat kita tinggal. Padahal jika ditelusuri lebih dalam, makna rumah jauh lebih luas daripada sekadar tembok, atap, lantai, dan halaman. Rumah pada hakikatnya adalah tempat kita bernaung, tempat kita tinggal, tempat kita meletakkan diri, tempat kita kembali setelah berkelana. Rumah adalah ruang perlindungan. Rumah adalah wadah kehidupan. Dan karena itu, dalam perjalanan hidup manusia, ternyata kita memiliki banyak rumah.
Ada rumah fisik yang kita tempati setiap hari. Ada tubuh yang menjadi rumah bagi jiwa. Ada pasangan yang menjadi rumah bagi cinta, harapan, dan kebersamaan. Bahkan ada rumah yang lebih dalam lagi, yang tidak terbuat dari batu bata, tidak memiliki pintu dan jendela, tetapi selalu hadir menemani kita sepanjang waktu, yaitu saat ini, di sini, sekarang.
Masalahnya, manusia sering kali tidak mesra dengan rumah-rumah yang sudah dimilikinya. Kita tinggal di sebuah rumah fisik tetapi sibuk menginginkan rumah orang lain. Kita memiliki tubuh tetapi sibuk mengeluhkan kekurangannya. Kita memiliki pasangan tetapi sibuk membandingkannya dengan orang lain. Kita hidup di saat ini tetapi pikiran terus berlari ke masa lalu dan masa depan. Akibatnya, kita seperti seseorang yang sudah berada di rumah tetapi tidak pernah benar-benar tinggal di dalamnya.
Rumah fisik yang kita miliki sesungguhnya adalah rumah pertama yang harus kita jadikan surga. Bukan karena rumah itu sempurna, bukan karena rumah itu besar, mewah, atau indah menurut standar dunia, tetapi karena rumah itulah yang saat ini menjadi tempat kita hidup. Ada orang yang tinggal di rumah sederhana dan hidup penuh kebahagiaan. Ada pula yang tinggal di rumah megah tetapi hatinya penuh keresahan. Ini menunjukkan bahwa surga tidak ditentukan oleh bentuk rumahnya, melainkan oleh hubungan kita dengan rumah tersebut.
Ketika seseorang terus-menerus menolak rumahnya sendiri, mengeluhkan ukurannya, membandingkannya dengan rumah orang lain, merasa malu terhadapnya, maka rumah itu akan terasa seperti penjara. Tetapi ketika seseorang mulai menerima rumahnya, merawatnya, mensyukurinya, menikmati keberadaannya, maka rumah itu berubah menjadi surga. Bukan karena rumahnya berubah, melainkan karena cara pandangnya berubah.
Mesra dengan rumah berarti hadir sepenuhnya di dalamnya. Menikmati secangkir kopi di teras rumah sendiri. Menikmati suara hujan yang jatuh di atap rumah sendiri. Menikmati kesederhanaan ruang yang ada. Tidak terus-menerus mengkhayalkan tempat lain. Tidak terus-menerus berpikir bahwa kebahagiaan baru akan datang jika memiliki rumah yang lebih besar, lebih bagus, atau lebih mewah. Sebab jika hati belum mampu mesra dengan rumah yang sekarang, kemungkinan besar ia juga tidak akan mesra dengan rumah yang berikutnya.
Kemudian kehidupan memberikan rumah yang kedua, yaitu tubuh. Tubuh adalah rumah yang paling dekat dengan kita. Bahkan lebih dekat daripada rumah fisik. Rumah fisik bisa kita tinggalkan, tetapi tubuh selalu menemani ke mana pun kita pergi. Sejak lahir hingga hari ini, tubuh tidak pernah meninggalkan kita sedetik pun.
Namun sering kali justru rumah inilah yang paling banyak ditolak. Ada yang membenci wajahnya. Ada yang membenci warna kulitnya. Ada yang membenci usianya. Ada yang membenci bentuk tubuhnya. Ada yang terus-menerus ingin menjadi orang lain. Akibatnya, ia hidup seperti penghuni yang tidak menyukai rumahnya sendiri.
Padahal tubuh adalah rumah yang luar biasa. Jantung bekerja siang malam tanpa henti. Paru-paru bernapas tanpa diminta. Mata melihat dunia. Telinga mendengar suara kehidupan. Seluruh pengalaman hidup terjadi melalui tubuh ini. Tubuh telah setia menemani segala suka dan duka kita.
Mesra dengan tubuh berarti menerima tubuh sebagaimana adanya saat ini. Merawatnya dengan penuh kasih. Menghormatinya. Menggunakannya dengan bijak. Tidak menjadikannya objek kebencian. Tidak terus-menerus memprotes bentuk yang diberikan kehidupan. Sebab bagaimana mungkin seseorang menemukan kedamaian jika ia tinggal di dalam rumah yang terus ia hina setiap hari?
Lalu kehidupan menghadirkan rumah berikutnya, yaitu pasangan. Pasangan sering kali menjadi rumah bagi hati. Rumah bagi rasa aman. Rumah bagi cinta. Rumah bagi tempat berbagi cerita. Rumah bagi harapan dan impian. Ketika seseorang pulang dan menemukan pelukan yang hangat, ia merasakan arti rumah yang sesungguhnya.
Tetapi seperti rumah-rumah yang lain, pasangan juga sering ditolak. Kita ingin pasangan menjadi sesuai dengan gambaran yang ada di kepala kita. Kita ingin pasangan berubah. Kita ingin pasangan menjadi seperti yang kita harapkan. Kita ingin pasangan selalu mengerti. Selalu memahami. Selalu sesuai keinginan.
Padahal rumah tidak harus sempurna untuk menjadi tempat tinggal. Pasangan juga tidak harus sempurna untuk menjadi rumah bagi cinta. Ketika kita berhenti menuntut kesempurnaan dan mulai menerima keberadaannya sebagai manusia yang juga memiliki kekurangan, hubungan menjadi jauh lebih hangat. Mesra dengan pasangan bukan berarti tidak melihat kekurangannya, melainkan tidak menjadikan kekurangan itu sebagai alasan untuk menolak keberadaannya.
Rumah fisik, tubuh, dan pasangan adalah berbagai bentuk rumah yang diberikan kehidupan. Masing-masing memiliki fungsi perlindungan. Masing-masing menjadi wadah bagi pengalaman tertentu. Masing-masing layak diterima, disyukuri, dan diperlakukan dengan penuh cinta.
Namun ada satu pertanyaan yang lebih dalam. Jika rumah fisik bisa rusak, tubuh bisa menua, dan pasangan suatu hari bisa berpisah karena keadaan atau kematian, lalu apakah ada rumah yang tidak pernah meninggalkan kita?
Di sinilah kita mulai masuk ke pemahaman yang lebih hakiki.
Rumah yang paling sejati bukanlah bangunan. Bukan tubuh. Bukan pasangan. Semua itu adalah rumah-rumah sementara yang sangat berharga, tetapi bukan rumah yang paling dalam. Rumah yang paling hakiki adalah tempat di mana kehidupan benar-benar berlangsung, yaitu saat ini, di sini, sekarang.
Saat ini adalah satu-satunya tempat kita hidup. Kita tidak pernah hidup di masa lalu. Kita juga tidak pernah hidup di masa depan. Kita hanya hidup di saat ini. Bahkan ketika mengingat masa lalu, proses mengingatnya terjadi sekarang. Ketika membayangkan masa depan, proses membayangkannya juga terjadi sekarang.
Artinya, rumah yang sesungguhnya adalah momen saat ini.
Sayangnya, sebagian besar manusia justru meninggalkan rumah sejatinya. Tubuh berada di sini, tetapi pikiran berada di masa lalu. Tubuh berada di sini, tetapi batin berada di masa depan. Ia duduk di ruang tamu rumahnya tetapi pikirannya sedang berada di tempat lain. Ia makan tetapi pikirannya sedang mengkhawatirkan besok. Ia berbicara dengan pasangan tetapi pikirannya sedang memikirkan kejadian bertahun-tahun lalu.
Akibatnya, ia menjadi pengembara di dalam pikirannya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar pulang.
Padahal rumah yang paling aman selalu tersedia setiap saat. Rumah itu adalah sekarang. Rumah itu adalah momen ini. Rumah itu adalah napas yang sedang keluar masuk. Rumah itu adalah suara yang sedang terdengar. Rumah itu adalah kehidupan yang sedang berlangsung saat ini.
Ketika kita benar-benar tinggal di sini, saat ini, sesuatu yang ajaib mulai terjadi. Pikiran berhenti mengembara terlalu jauh. Hati menjadi lebih tenang. Kita tidak lagi sibuk mengejar surga karena ternyata surga sudah ada di tempat kita berada.
Saat kita bisa menerima rumah fisik kita apa adanya, rumah itu menjadi surga. Saat kita bisa menerima tubuh kita apa adanya, tubuh itu menjadi surga. Saat kita bisa menerima pasangan kita apa adanya, hubungan itu menjadi surga. Dan saat kita benar-benar hadir di sini, saat ini, sekarang, tanpa melarikan diri ke masa lalu dan masa depan, maka kita menemukan surga yang paling dalam.
Karena pada akhirnya, surga bukanlah tempat yang harus dicapai. Surga adalah cara kita tinggal. Surga adalah cara kita hadir. Surga adalah kemesraan total dengan apa yang sudah ada.
Mesra dengan rumah yang ditempati. Mesra dengan tubuh yang digunakan. Mesra dengan pasangan yang menemani. Dan yang paling penting, mesra dengan momen saat ini, di sini, sekarang.
Sebab di sinilah rumah yang sejati berada. Di sinilah kehidupan tinggal. Di sinilah keberadaan berdiam. Di sinilah kita benar-benar pulang. Di sini. Saat ini. Sekarang. Dan ketika kita sepenuhnya tinggal di sini, kita menyadari bahwa selama ini kita tidak pernah jauh dari surga. Kita hanya terlalu sering meninggalkan rumah kita sendiri.
0 Response to "RUMAHKU SURGAKU"
Post a Comment