Banyak orang mencampuradukkan antara spiritual dan supranatural. Bahkan tidak sedikit yang menganggap keduanya adalah hal yang sama. Ketika mendengar kata spiritual, yang terbayang adalah meditasi, puasa, zikir, doa, ritual, tirakat, tapa, pengolahan energi, pembukaan cakra, wirid, mantra, dan berbagai bentuk laku batin lainnya. Padahal kesamaan metode tidak selalu berarti kesamaan tujuan. Dua orang bisa melakukan meditasi yang sama, duduk di tempat yang sama, dengan posisi yang sama, durasi yang sama, tetapi hasil yang dicari sangat berbeda. Di sinilah letak perbedaan mendasar antara spiritual dan supranatural yang sering tidak dipahami.
Secara sederhana, supranatural adalah usaha mengatur dunia luar agar sesuai dengan keinginan batin. Sedangkan spiritual adalah usaha mengatur batin agar tidak tergantung pada dunia luar. Kalimat ini terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya menjadi pembatas yang sangat jelas antara dua jalan yang berbeda arah. Jalan supranatural bergerak dari dalam menuju luar. Jalan spiritual bergerak dari luar menuju dalam. Jalan supranatural ingin mengubah kejadian. Jalan spiritual ingin memahami dan melampaui reaksi terhadap kejadian. Jalan supranatural berusaha membuat hidup sesuai keinginan. Jalan spiritual berusaha menerima hidup sebagaimana adanya.
Misalnya seseorang memiliki toko yang sepi. Dalam pendekatan supranatural, fokus utamanya adalah bagaimana agar toko menjadi ramai. Ia mungkin melakukan berbagai ritual, tirakat, puasa, meditasi khusus, doa-doa tertentu, mendatangi orang pintar, mengatur energi tempat usaha, mencari hari baik, memasang benda-benda tertentu, atau melakukan berbagai laku lainnya dengan harapan terjadi perubahan di luar dirinya. Tujuannya jelas, yaitu mengubah keadaan toko yang sepi menjadi ramai. Yang ingin diperbaiki adalah kondisi eksternal. Yang ingin diatur adalah dunia luar. Yang ingin dicapai adalah hasil tertentu.
Sedangkan dalam pendekatan spiritual, fokusnya bukan pertama-tama membuat toko ramai. Fokusnya adalah mengamati mengapa dirinya menderita ketika toko sepi. Ia mulai melihat bahwa penderitaan bukan berasal dari kesepian toko itu sendiri, melainkan berasal dari pikiran yang menolak kenyataan. Ia mulai menyadari bahwa rasa kecewa muncul karena ada harapan yang tidak terpenuhi. Ia mulai memahami bahwa pikirannya menciptakan perlawanan terhadap keadaan saat ini. Maka yang ia latih bukan bagaimana memaksa toko menjadi ramai, melainkan bagaimana menerima kenyataan toko sedang sepi tanpa kehilangan kedamaian batin. Jika kemudian ia memperbaiki strategi bisnis, promosi, kualitas produk, dan sebagainya, itu dilakukan dari kesadaran yang jernih, bukan dari kepanikan dan penderitaan.
Contoh lain adalah masalah jodoh. Dalam pendekatan supranatural, seseorang yang sulit mendapatkan pasangan akan mencari berbagai metode agar orang lain tertarik kepadanya. Ada yang membaca amalan tertentu, melakukan ritual tertentu, memakai benda-benda tertentu, mengolah energi tertentu, atau menjalankan berbagai laku dengan tujuan mempengaruhi realitas luar agar muncul pasangan yang diinginkan. Sekali lagi, yang menjadi sasaran adalah dunia luar. Yang ingin diubah adalah perilaku orang lain. Yang dicari adalah hasil tertentu berupa hadirnya pasangan.
Sedangkan dalam pendekatan spiritual, seseorang mulai bertanya mengapa ia begitu menderita ketika sendirian. Ia mengamati rasa sepi, rasa takut ditinggalkan, rasa takut tidak dicintai, rasa takut tidak dianggap berharga. Ia menyadari bahwa akar penderitaan bukan pada tidak adanya pasangan, melainkan pada ketergantungan batinnya terhadap keberadaan pasangan. Maka yang dipelajari adalah bagaimana menjadi utuh bahkan ketika sendirian. Bagaimana menjadi damai meskipun belum memiliki pasangan. Bagaimana menemukan kebahagiaan yang tidak bergantung kepada kehadiran orang lain. Ketika suatu hari pasangan hadir, itu menjadi bonus kehidupan, bukan sumber utama kebahagiaan.
Perbedaan ini sebenarnya dapat ditemukan hampir dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Orang yang mengejar supranatural biasanya bertanya, "Bagaimana cara mendapatkan?" Sedangkan orang yang menempuh spiritual bertanya, "Siapa yang menginginkan?" Orang yang mengejar supranatural bertanya, "Bagaimana mengubah keadaan?" Sedangkan orang yang menempuh spiritual bertanya, "Mengapa aku menolak keadaan?" Orang yang mengejar supranatural berusaha mengendalikan dunia. Orang yang menempuh spiritual berusaha memahami dirinya sendiri.
Yang menarik adalah metode yang digunakan sering kali tampak sama. Keduanya bisa sama-sama bermeditasi. Keduanya bisa sama-sama berdoa. Keduanya bisa sama-sama berpuasa. Keduanya bisa sama-sama melakukan zikir. Keduanya bisa sama-sama menyepi. Keduanya bisa sama-sama melakukan laku prihatin. Dari luar hampir tidak ada perbedaan. Tetapi dari dalam, arah perjalanannya bertolak belakang.
Seseorang bisa bermeditasi agar dagangannya laris. Ini supranatural. Seseorang bisa bermeditasi agar tetap tenang ketika dagangannya sepi. Ini spiritual. Seseorang bisa berdoa agar musuhnya kalah. Ini supranatural. Seseorang bisa berdoa agar hatinya tidak dipenuhi kebencian kepada musuh. Ini spiritual. Seseorang bisa berpuasa agar mendapatkan kekayaan. Ini supranatural. Seseorang bisa berpuasa agar lebih mengenal dirinya sendiri. Ini spiritual. Seseorang bisa berzikir agar memperoleh jabatan. Ini supranatural. Seseorang bisa berzikir agar egonya semakin melemah. Ini spiritual.
Di sinilah banyak orang terjebak. Mereka mengira sedang berjalan di jalur spiritual padahal sebenarnya masih berada di wilayah supranatural. Mereka mengganti bentuk keinginannya tetapi tidak mengubah pola dasarnya. Mereka tetap mengejar sesuatu di luar diri. Mereka tetap bergantung pada hasil. Mereka tetap mengukur keberhasilan berdasarkan perubahan keadaan. Mereka tetap merasa bahagia ketika keinginannya terpenuhi dan tetap menderita ketika keinginannya gagal. Batin mereka masih menjadi budak dari situasi eksternal.
Spiritual sejati justru bergerak menuju kemerdekaan batin. Kemerdekaan dari kebutuhan untuk selalu mendapatkan apa yang diinginkan. Kemerdekaan dari ketakutan kehilangan apa yang dimiliki. Kemerdekaan dari keharusan bahwa hidup harus selalu sesuai harapan. Kemerdekaan dari keterikatan pada pujian dan ketakutan terhadap hinaan. Kemerdekaan dari rasa harus menang, harus berhasil, harus diakui, harus dicintai, harus dipahami, dan harus mendapatkan hasil tertentu.
Banyak orang mengira spiritual adalah tentang mendapatkan kekuatan luar biasa. Padahal spiritual yang mendalam justru tentang melepaskan kebutuhan untuk menjadi luar biasa. Banyak orang mengira spiritual adalah kemampuan mempengaruhi realitas. Padahal spiritual yang sejati adalah kemampuan berdamai dengan realitas. Banyak orang mengira spiritual adalah tentang menguasai energi semesta. Padahal spiritual adalah tentang memahami diri yang ingin menguasai energi semesta tersebut.
Ketika seseorang benar-benar memasuki wilayah spiritual, perlahan-lahan ia menemukan sesuatu yang sangat berharga yaitu penerimaan total terhadap saat ini. Penerimaan bukan berarti pasrah tanpa tindakan. Penerimaan bukan berarti menyerah. Penerimaan bukan berarti malas. Penerimaan adalah kemampuan melihat kenyataan sebagaimana adanya tanpa menambahkan penolakan mental. Jika hari ini untung, ia menerimanya. Jika hari ini rugi, ia juga menerimanya. Jika dipuji, ia menerimanya. Jika dicela, ia juga menerimanya. Jika berhasil, ia menerimanya. Jika gagal, ia juga menerimanya.
Dari penerimaan inilah muncul kejernihan. Dari kejernihan muncul kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan muncul tindakan yang tepat. Sedangkan ketika batin penuh penolakan, tindakan yang muncul biasanya berasal dari ketakutan, kemarahan, keserakahan, kecemasan, dan kepanikan. Karena itu spiritual bukan membuat seseorang pasif. Justru spiritual membuat seseorang bertindak lebih efektif karena tindakannya tidak lagi dikendalikan oleh reaksi emosional yang berlebihan.
Pada akhirnya, supranatural dan spiritual bukan dibedakan oleh ritualnya, bukan dibedakan oleh pakaiannya, bukan dibedakan oleh agamanya, bukan dibedakan oleh teknik meditasinya, bukan dibedakan oleh doa-doanya, melainkan dibedakan oleh arah kesadarannya. Jika seluruh laku dilakukan untuk mengubah dunia luar agar batin senang, maka itu berada di wilayah supranatural. Jika seluruh laku dilakukan untuk memahami, menenangkan, dan membebaskan batin dari ketergantungan terhadap dunia luar, maka itu berada di wilayah spiritual.
Supranatural berkata, "Aku akan damai jika keadaan berubah." Spiritual berkata, "Aku damai terlebih dahulu, lalu menghadapi keadaan apa adanya." Supranatural berkata, "Aku harus mendapatkan apa yang kuinginkan." Spiritual berkata, "Aku belajar menerima apa yang ada saat ini." Supranatural berpusat pada pengendalian realitas. Spiritual berpusat pada kesadaran terhadap diri sendiri. Supranatural mencari kekuatan untuk mengubah dunia. Spiritual mencari kebebasan dari keharusan mengubah dunia.
Dan ketika seseorang benar-benar sampai pada kedalaman spiritual, ia mulai menyadari bahwa sumber kebahagiaan tidak pernah berada di luar dirinya. Kebahagiaan tidak berasal dari toko yang ramai, pasangan yang sempurna, uang yang melimpah, jabatan yang tinggi, pujian manusia, atau keadaan yang ideal. Semua itu bisa datang dan pergi. Semua itu bisa muncul dan hilang. Semua itu tidak kekal. Yang menjadi sumber kedamaian sejati adalah kemampuan hadir sepenuhnya dalam saat ini, menerima kehidupan sebagaimana adanya, dan tidak lagi menjadikan dunia luar sebagai penentu keadaan batin. Di titik itulah spiritual mencapai puncaknya, yaitu ketika seseorang tidak lagi berusaha memaksa kehidupan mengikuti keinginannya, melainkan mampu berjalan bersama kehidupan dengan hati yang hening, jernih, dan merdeka.
0 Response to "PERBEDAAN SPIRITUAL DAN SUPRANATURAL: DUA JALAN YANG SERING DIANGGAP SAMA PADAHAL TUJUANNYA BERBEDA"
Post a Comment