KESADARAN ADALAH BATERAI KEHIDUPAN



KESADARAN ADALAH BATERAI KEHIDUPAN

Bayangkan ketika kita baru lahir ke dunia ini. Kita datang dengan membawa sebuah "baterai" yang terisi penuh, 100% penuh daya. Baterai itu adalah **kesadaran**. Pada awal kehidupan, kesadaran kita masih utuh, belum terpecah, belum terbagi, belum melekat kepada apa pun. Kita hanya hadir. Kita hanya ada.

Namun, begitu mata mulai terbuka dan kelima indra mulai aktif, perlahan-lahan terjadilah kebocoran. Mata melihat berbagai bentuk yang indah. Telinga mendengar suara yang memikat. Lidah mengecap berbagai rasa. Hidung mencium berbagai aroma. Kulit merasakan berbagai sentuhan. Sejak saat itulah perhatian kita mulai mengalir keluar.

Kita melihat wajah yang cantik, tubuh yang menarik, kekayaan yang menggiurkan, mobil mewah, rumah megah, apartemen yang nyaman, makanan yang menggoda, hiburan yang memabukkan, jabatan yang menjanjikan, pujian yang membuat kita merasa berarti, dan berbagai pengalaman lain yang seolah berkata, "Datanglah kepadaku, maka kamu akan bahagia."

Tanpa disadari, setiap kali perhatian kita melekat kepada sesuatu di luar diri, sedikit demi sedikit energi kesadaran kita mengalir ke sana. Seperti baterai yang terus dipakai tanpa pernah diisi ulang, daya kesadaran kita semakin berkurang. Akibatnya, kita mulai merasa kosong, gelisah, takut kehilangan, haus akan pengakuan, dan selalu merasa ada sesuatu yang kurang.

Lalu kita menyimpulkan bahwa kekosongan itu harus diisi dengan lebih banyak uang, lebih banyak cinta, lebih banyak pasangan, lebih banyak kekuasaan, lebih banyak hiburan, lebih banyak pengalaman, atau lebih banyak kepemilikan. Padahal yang sebenarnya terjadi bukanlah kita kekurangan sesuatu. Yang terjadi adalah **kesadaran kita tersebar ke mana-mana**.

Kita menjadi sibuk mengejar objek-objek di luar diri, padahal yang hilang bukan objeknya, melainkan perhatian kita sendiri. Kita mengejar kebahagiaan ke luar, padahal kebahagiaan itu hilang karena energi kita sudah habis mengalir ke luar.

Sesungguhnya sejak awal kita sudah utuh. Kita sudah lengkap. Kita sudah penuh. Kesadaran kita sejak lahir adalah **full charger 100%**. Tidak ada yang kurang. Tidak ada yang cacat. Tidak ada yang perlu ditambahkan. Yang terjadi hanyalah perhatian kita berpindah dari pusat diri menuju berbagai objek yang terus-menerus menarik kita.

Karena itu, perjalanan spiritual bukanlah perjalanan mencari sesuatu yang baru. Bukan pula perjalanan menjadi seseorang yang lebih hebat. Perjalanan spiritual adalah perjalanan **mengembalikan kesadaran yang tercerai-berai agar kembali utuh**.

Setiap kali kita berhenti mengejar, berhenti melekat, berhenti larut dalam objek-objek di luar diri, kita sedang menarik kembali perhatian kita. Sedikit demi sedikit energi yang tersebar mulai kembali ke pusat. Baterai yang tadinya bocor mulai terisi kembali. Pikiran menjadi tenang. Emosi menjadi stabil. Kehadiran menjadi semakin kuat.

Inilah makna menarik kembali atensi dari luar menuju ke dalam. Mengambil kembali kendali atas kesadaran yang selama ini berlarian ke mana-mana. Tidak lagi diperbudak oleh apa yang dilihat, didengar, dirasakan, atau dipikirkan.

Dalam banyak tradisi spiritual, keadaan ini dikenal sebagai kembali kepada Diri Sejati. Kesadaran tidak lagi terseret oleh objek, tetapi tinggal sebagai saksi yang sadar. Inilah yang dimaksud dengan **"I Am That I Am"**—Aku adalah Aku. Kesadaran yang hadir apa adanya, utuh, lengkap, tidak bergantung pada apa pun di luar dirinya.

Saat perhatian kembali sepenuhnya ke pusat diri, kita tidak lagi hidup karena mengejar dunia. Justru dari kesadaran yang penuh itulah kita menikmati dunia tanpa diperbudak olehnya. Kita menggunakan dunia, tetapi tidak kehilangan diri di dalamnya. Itulah keadaan ketika baterai kesadaran kembali terisi penuh, kembali menjadi **100% utuh**, sebagaimana saat pertama kali kita hadir ke bumi ini.

0 Response to "KESADARAN ADALAH BATERAI KEHIDUPAN"

Post a Comment