CINTA BUKAN KETERIKATAN

CINTA BUKAN KETERIKATAN

Ketika kita berbicara tentang cinta, sebagian besar manusia sesungguhnya sedang berbicara tentang sesuatu yang berbeda dari cinta itu sendiri. Apa yang selama ini disebut cinta dalam kehidupan sehari-hari sering kali lebih dekat kepada keterikatan, ketergantungan, kebutuhan emosional, kebutuhan biologis, dan dorongan reproduksi daripada cinta dalam makna yang paling mendalam. Ketika seseorang berkata bahwa ia tidak bisa hidup tanpa seseorang, ketika ia merasa gelisah karena tidak mendapat perhatian, ketika ia merasa cemburu, takut kehilangan, takut ditinggalkan, atau merasa hidupnya hancur karena putus hubungan, semua itu sering dianggap sebagai bukti cinta yang besar. Padahal dari sudut pandang psikologi, biologi evolusioner, dan ilmu saraf, keadaan tersebut lebih tepat disebut keterikatan. Tubuh manusia memiliki jutaan tahun sejarah evolusi yang membentuk berbagai mekanisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan kelangsungan spesies. Salah satu mekanisme paling kuat adalah dorongan untuk bereproduksi. Agar reproduksi terjadi, organisme harus memiliki motivasi yang cukup kuat untuk mencari pasangan, membangun kedekatan, mempertahankan hubungan, dan menghasilkan keturunan. Karena itu evolusi membangun sistem penghargaan biologis melalui berbagai zat kimia di dalam tubuh seperti dopamin, oksitosin, serotonin, vasopresin, dan berbagai hormon lainnya yang menciptakan perasaan tertarik, nyaman, rindu, bergairah, dan terikat kepada individu tertentu. Perasaan-perasaan inilah yang sering diterjemahkan manusia sebagai cinta, padahal secara biologis sebagian besar merupakan strategi alam untuk memastikan kelangsungan spesies.

Ketika seseorang jatuh cinta, otaknya mengalami aktivitas yang mirip dengan seseorang yang sedang mengalami kecanduan. Dopamin meningkat, pusat penghargaan di otak menjadi aktif, perhatian terfokus pada satu objek tertentu, dan individu tersebut mengalami dorongan kuat untuk terus mendekati sumber kesenangan itu. Karena itu orang yang sedang jatuh cinta sering tidak objektif. Mereka melihat pasangannya lebih indah daripada kenyataan, lebih sempurna daripada kenyataan, dan sering mengabaikan kekurangan yang sangat jelas. Dalam ilmu psikologi fenomena ini dikenal sebagai idealisasi. Alam seakan-akan membuat manusia mengenakan kacamata khusus agar hubungan dapat terbentuk dan reproduksi dapat terjadi. Setelah hubungan berlangsung lama atau setelah tujuan biologis tertentu tercapai, intensitas kimiawi tersebut mulai berubah. Inilah sebabnya mengapa banyak orang berkata bahwa cinta memudar. Padahal yang memudar sering kali bukan cinta, melainkan gelombang kimia dan keterikatan biologis yang sejak awal memang dirancang untuk sementara waktu. Jika hubungan sejak awal hanya berdiri di atas fondasi keterikatan biologis, maka ketika dorongan biologis menurun, hubungan pun terasa kosong.

Di sinilah pentingnya membedakan antara cinta dan keterikatan. Keterikatan selalu memiliki objek tertentu yang menjadi pusat kebahagiaan. Aku bahagia karena ada dia. Aku menderita karena dia pergi. Aku merasa lengkap karena memiliki sesuatu. Aku merasa hancur karena kehilangan sesuatu. Dengan kata lain, sumber pengalaman berada di luar diri. Kebahagiaan bergantung pada kondisi tertentu. Sebaliknya, cinta dalam makna yang lebih dalam tidak lahir dari kebutuhan, melainkan dari kepenuhan. Cinta tidak berkata, "Aku membutuhkanmu agar aku bahagia." Cinta berkata, "Aku bahagia dan karena itu aku bisa berbagi." Keterikatan selalu takut kehilangan, sedangkan cinta tidak mengenal rasa memiliki. Keterikatan ingin menggenggam, cinta membiarkan. Keterikatan menciptakan kecemasan, cinta menciptakan kedamaian. Keterikatan membuat seseorang mengendalikan, cinta membuat seseorang menerima. Keterikatan berakar pada ketakutan, cinta berakar pada kesadaran.

Jika kita melihat lebih dalam lagi, banyak tradisi spiritual besar di dunia membedakan dengan jelas antara cinta yang bersifat personal dan cinta yang bersifat universal. Dalam berbagai ajaran kebijaksanaan kuno, cinta sejati bukanlah emosi yang muncul sesekali lalu hilang, melainkan sebuah keadaan kesadaran. Cinta bukan sesuatu yang kita lakukan, melainkan sesuatu yang kita jadikan sebagai cara berada. Banyak guru spiritual menjelaskan bahwa cinta sejati muncul ketika pikiran tidak lagi terjebak di masa lalu maupun masa depan. Sebagian besar penderitaan manusia berasal dari hidup yang terus menerus berada di dalam ingatan dan proyeksi. Pikiran mengenang apa yang telah terjadi, menyesali masa lalu, mengkhawatirkan masa depan, membandingkan diri dengan orang lain, mengejar sesuatu yang belum ada, dan menolak sesuatu yang sedang terjadi. Karena itu manusia jarang benar-benar hadir. Ia ada di sini secara fisik tetapi tidak hadir secara batin. Ketika makan ia memikirkan pekerjaan. Ketika bekerja ia memikirkan liburan. Ketika liburan ia memikirkan masalah. Ketika bersama orang yang dicintai ia memikirkan ketakutan kehilangan. Hidupnya selalu terpecah.

Namun ketika seseorang benar-benar hadir di saat ini, sesuatu yang berbeda mulai muncul. Ketika tidak ada lagi perlawanan terhadap momen sekarang, ketika pikiran berhenti berlari ke masa lalu dan masa depan, ketika seseorang menerima apa yang sedang ada tanpa syarat, maka muncullah keadaan yang oleh banyak tradisi disebut cinta. Cinta dalam pengertian ini bukanlah hubungan antara seseorang dengan objek tertentu. Cinta adalah kualitas kehadiran. Cinta adalah kemesraan dengan kehidupan itu sendiri. Cinta adalah kemampuan untuk berkata ya kepada keberadaan. Cinta adalah kemampuan untuk menyentuh setiap momen tanpa penolakan. Ketika seseorang dapat duduk diam dan menikmati hembusan angin, ketika ia dapat menerima kesedihan tanpa membencinya, ketika ia dapat menikmati secangkir kopi tanpa tergesa-gesa, ketika ia dapat melihat langit tanpa harus menginginkan apa pun, ketika ia dapat menghadapi masalah tanpa kehilangan kedamaian batinnya, maka ia sedang menyentuh cinta dalam bentuk yang lebih murni.

Dalam keadaan ini cinta tidak lagi bergantung pada objek tertentu. Ia menjadi seperti cahaya matahari yang menyinari semua hal tanpa memilih. Seseorang dapat mencintai pekerjaannya, mencintai kesunyiannya, mencintai tantangannya, mencintai kegagalannya, mencintai pertumbuhannya, bahkan mencintai penderitaan yang mengajarkannya banyak hal. Bukan karena semua pengalaman itu menyenangkan, melainkan karena ia tidak lagi memisahkan dirinya dari kehidupan. Ia tidak lagi berperang dengan realitas. Ia tidak lagi berkata bahwa hidup harus sesuai keinginannya agar ia bahagia. Ia menjadi mesra dengan apa yang ada. Dan kemesraan itulah bentuk cinta yang paling dekat dengan cinta universal.

Dari sudut pandang ilmu saraf modern, keadaan hadir sepenuhnya di saat ini juga memiliki dasar yang menarik. Penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang berada dalam kondisi kesadaran penuh atau mindfulness, aktivitas jaringan otak yang berkaitan dengan pengembaraan pikiran dan pembicaraan internal yang berlebihan cenderung menurun. Akibatnya seseorang mengalami ketenangan yang lebih besar, penerimaan yang lebih dalam, dan hubungan yang lebih intim dengan pengalaman langsung. Ia tidak lagi hidup melalui konsep, melainkan melalui pengalaman nyata. Banyak orang mengira kebahagiaan berasal dari memperoleh sesuatu, padahal sering kali kebahagiaan muncul ketika gangguan mental yang memisahkan kita dari kehidupan mulai berkurang. Dalam ruang keheningan itulah cinta sering kali muncul secara alami.

Karena itu mungkin cinta yang paling dalam bukanlah sesuatu yang harus dicari, melainkan sesuatu yang muncul ketika berbagai bentuk ketakutan, keterikatan, dan perlawanan mulai menghilang. Ketika seseorang berhenti berusaha memiliki kehidupan dan mulai hidup sepenuhnya, ketika ia berhenti mengejar cinta sebagai objek dan mulai menjadi cinta sebagai kualitas kesadaran, maka ia menemukan sesuatu yang jauh lebih luas daripada sekadar hubungan romantis. Ia menemukan bahwa cinta bukan hanya kepada seseorang, melainkan kepada keberadaan itu sendiri. Ia menemukan bahwa cinta bukanlah kebutuhan untuk memiliki, melainkan kemampuan untuk hadir. Bukan kebutuhan untuk menggenggam, melainkan kemampuan untuk menyatu dengan setiap momen. Bukan ketergantungan kepada objek tertentu, melainkan kemesraan total terhadap apa pun yang sedang ada. Dan ketika kemesraan terhadap saat ini telah muncul, maka tidak ada lagi batas yang jelas antara diri dan kehidupan, karena pada saat itulah cinta tidak lagi menjadi sebuah perasaan yang datang dan pergi, melainkan menjadi cara seseorang mengalami seluruh keberadaan.

0 Response to "CINTA BUKAN KETERIKATAN"

Post a Comment