KADANG KITA NAIK YA NAIK SAJA, JATUH YA JATUH SAJA

KADANG KITA NAIK YA NAIK SAJA, JATUH YA JATUH SAJA

Kasus juri cerdas cermat yang sempat viral itu menarik sekali untuk direnungkan. Seorang siswi yang sebenarnya benar justru sempat disalahkan oleh juri. Publik kemudian bereaksi, masalah itu menyebar luas, lalu dalam waktu singkat keadaan berbalik. Yang tadinya dianggap salah malah mendapat simpati besar, dukungan, bahkan kabarnya sampai mendapat peluang beasiswa.

Dari situ kita bisa melihat satu hal:

Nasib manusia kadang berubah sangat cepat.

Dalam hitungan jam seseorang bisa:

dipuji lalu dihujat,

jatuh lalu naik,

diremehkan lalu dibela,

dianggap gagal lalu dianggap hebat.

Dan uniknya, setiap kali ada kejadian seperti itu manusia selalu sibuk mencari sebab.

Kalau ada orang sukses kita bilang:
“Karena dia konsisten.”
“Karena dia disiplin.”
“Karena mindset-nya bagus.”
“Karena energinya positif.”
“Karena dia rajin.”
“Karena dia pintar membaca peluang.”

Kalau ada orang jatuh kita juga mencari sebab:
“Karena pasangannya tidak sinkron.”
“Karena kurang bersyukur.”
“Karena karma.”
“Karena salah pergaulan.”
“Karena pola pikir negatif.”
“Karena energinya berat.”
“Karena sombong.”
“Karena kurang spiritual.”
“Karena makanannya.”
“Karena lingkungan.”

“Karena kurang healing.”

Manusia memang selalu ingin menemukan pola dan alasan.

Karena pikiran manusia tidak nyaman dengan sesuatu yang terasa acak.

Kita ingin percaya bahwa segala sesuatu punya rumus pasti.

Padahal kenyataannya tidak selalu begitu.

Kadang ada orang yang sangat rajin tetapi hidupnya tetap berat.
Kadang ada orang yang biasa saja tetapi tiba-tiba viral dan sukses.
Kadang ada orang yang sangat hati-hati tetapi tetap kena musibah.
Kadang ada orang yang hidupnya berantakan tetapi justru beruntung terus.

Kalau dipikir secara logika penuh, hidup sering kali tidak konsisten.

Dan mungkin inilah yang sulit diterima manusia:
bahwa tidak semua kejadian punya alasan yang benar-benar pasti.

Kadang seseorang naik ya karena sedang dinaikkan saja.

Kadang seseorang jatuh ya karena sedang jatuh saja.

Tetapi manusia sulit menerima kalimat sesederhana itu.

Karena pikiran selalu ingin memegang kendali.

Maka muncullah ribuan teori.

Ketika seseorang kaya:
kita mencari alasan kenapa dia kaya.

Ketika seseorang bangkrut:
kita mencari alasan kenapa dia bangkrut.

Padahal bisa jadi alasan-alasan itu hanyalah cerita yang dibuat pikiran setelah kejadian terjadi.

Manusia sering menciptakan narasi belakangan seolah semuanya bisa dijelaskan.

Padahal hidup jauh lebih liar daripada teori manusia.

Kadang alam semesta seperti sedang menggerakkan seseorang naik tanpa bisa diprediksi.

Tiba-tiba terkenal.
Tiba-tiba viral.
Tiba-tiba dibantu orang.
Tiba-tiba rezekinya terbuka.
Tiba-tiba banyak yang mendukung.

Dan ketika sedang jatuh juga sama.

Tiba-tiba kehilangan peluang.
Tiba-tiba dihujat.
Tiba-tiba dijauhi.
Tiba-tiba gagal.
Tiba-tiba semua terasa berat.

Lalu manusia sibuk mencari penyebab agar pikirannya merasa aman.

Karena kalau hidup ternyata terlalu acak, ego manusia merasa takut.

Maka kita lebih nyaman percaya:
“Kalau saya melakukan A maka pasti hasilnya B.”

Padahal realitanya tidak sesederhana itu.

Ada orang yang melakukan hal yang sama tetapi hasilnya berbeda jauh.

Ada orang yang kerja mati-matian tetap miskin.
Ada orang yang santai malah kaya.
Ada orang yang sangat cerdas tetapi hidupnya kacau.
Ada orang yang biasa saja tetapi hidupnya lancar.

Bukan berarti usaha tidak penting.

Usaha tetap penting.

Tetapi usaha bukan satu-satunya penentu realita.

Dan ini yang sering membuat manusia frustrasi.

Karena kita ingin dunia bisa dikontrol penuh oleh logika.

Padahal ada banyak hal yang tidak bisa dijelaskan sepenuhnya.

Kadang kehidupan bergerak seperti ombak.

Ada fase naik.
Ada fase turun.
Ada fase terang.
Ada fase gelap.

Dan semua itu bisa berubah sangat cepat.

Orang yang hari ini dipuji bisa besok dihina.
Orang yang hari ini jatuh bisa besok dibela seluruh negeri.

Maka terlalu cepat menghakimi seseorang sebenarnya berbahaya.

Karena nasib manusia sangat cair.

Hari ini kita melihat seseorang sedang apes lalu merasa diri lebih baik.

Padahal bisa saja beberapa waktu kemudian posisi berbalik.

Begitu juga ketika kita sedang berada di atas.

Terlalu yakin bahwa semua keberhasilan murni hasil kehebatan diri juga berbahaya.

Karena ada banyak faktor kehidupan yang tidak bisa dihitung.

Kadang ada orang yang merasa:
“Saya sukses karena spiritual saya bagus.”

Yang lain bilang:
“Saya sukses karena konsisten.”

Yang lain lagi bilang:
“Saya sukses karena energi saya bersih.”

Padahal mungkin kenyataannya lebih sederhana:
dia memang sedang berada di fase naik.

Dan ketika fase itu berubah, semua teori tadi belum tentu bekerja lagi.

Ini bukan berarti hidup tidak perlu usaha.

Bukan berarti semuanya random tanpa makna.

Tetapi mungkin kita perlu lebih rendah hati terhadap kehidupan.

Karena tidak semua hal bisa dijelaskan dengan rumus sederhana.

Kadang kita terlalu sibuk mencari sebab sampai lupa menerima kenyataan bahwa hidup memang penuh perubahan.

Ada musim naik.
Ada musim turun.

Dan manusia sering baru sadar ketika hidup berubah sangat cepat di luar prediksinya.

Mungkin karena itu kita tidak perlu terlalu sombong saat naik dan tidak perlu terlalu hancur saat jatuh.

Karena dua-duanya bisa berubah dalam waktu singkat.

Dan mungkin kedamaian justru muncul ketika kita berhenti merasa bahwa kita sepenuhnya mengendalikan hidup.

Karena ada banyak hal yang ternyata bergerak sendiri di luar hitungan kita.

0 Response to "KADANG KITA NAIK YA NAIK SAJA, JATUH YA JATUH SAJA"

Post a Comment