Ada seribu macam cara untuk mati. Sapi bisa mati karena disembelih saat Idul Qurban, kambing bisa mati karena aqiqah, manusia bisa mati karena sakit, kecelakaan, perang, usia, gempa, atau hal kecil yang tidak pernah diperkirakan. Kematian itu satu, tetapi jalannya ribuan. Maka sebenarnya yang bekerja bukan sebabnya, melainkan sesuatu yang lebih besar yang memakai sebab-sebab itu sebagai jalan.
Begitu juga kegagalan. Ada seribu macam cara untuk membuat dagangan sepi, usaha bangkrut, hubungan putus, atau hidup berantakan. Dan ada juga seribu macam cara untuk membuat seseorang tiba-tiba sukses, viral, kaya, terkenal, atau dipertemukan dengan jodohnya. Karena itu manusia sering salah memahami hidup. Manusia terlalu fokus pada sebab, lalu mengira sebab itulah inti dari kejadian.
Ketika dagangan ramai, manusia langsung membuat kesimpulan. “Oh ternyata karena live malam.” “Oh ternyata karena cara ngomong.” “Oh ternyata karena kontennya.” “Oh ternyata karena wajahnya.” Padahal semua itu hanya jalan. Besok diulang belum tentu berhasil lagi. Karena kalau semesta ingin meramaikan, semesta bisa memakai cara apa saja. Dan kalau semesta ingin membuat sepi, semesta juga punya jutaan cara untuk membuat sepi.
Hubungan pun sama. Seseorang pernah gagal menjalin hubungan dengan perempuan yang ternyata masih punya pasangan sah. Hubungan itu hancur lalu dia menyimpulkan bahwa penyebab kegagalannya adalah karena memilih orang yang sudah punya pasangan. Akhirnya dia merasa sudah belajar dari masa lalu. Dia mulai mencari pasangan yang benar-benar single, tidak punya suami, tidak punya pacar, tidak punya hubungan tersembunyi. Dia merasa sekarang semuanya aman dan pasti berhasil.
Padahal belum tentu. Karena kalau semesta memang ingin menggagalkan hubungan itu, alasan baru akan muncul lagi. Bisa gagal karena ekonomi, keluarga, ego, jarak, trauma, orang ketiga, beda visi, kesibukan, rasa bosan, perubahan perasaan, bahkan karena sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal. Lalu manusia kembali membuat rumus baru lagi. “Oh ternyata jangan LDR.” “Oh ternyata jangan beda usia.” “Oh ternyata jangan terlalu sibuk.” Padahal semesta tinggal mengganti pintu kegagalannya saja.
Begitu juga sebaliknya. Ada orang bertemu pasangannya dengan cara yang aneh, tidak masuk akal, bahkan dipenuhi hal-hal yang menurut manusia mustahil, tetapi justru langgeng bertahun-tahun. Ada hubungan yang dipaksa orang tua tetapi tetap awet. Ada hubungan yang awalnya hanya main-main malah jadi pasangan hidup. Ada yang dipertemukan karena kecelakaan, karena salah sambung, karena kebetulan, bahkan karena konflik. Maka penyebab tidak pernah benar-benar bisa dijadikan ukuran mutlak.
Bahkan hal-hal seperti pelet, magic, pengasihan, atau energi tertentu pun sebenarnya tidak bisa dijadikan kesimpulan mutlak. Orang sering berkata, “Dia terikat karena kena pelet.” Padahal kalau semesta memang ingin mengaitkan dua orang, semesta bisa memakai pelet sebagai jalan. Dan kalau tidak memakai pelet pun, dua orang tetap bisa saling terikat karena alasan lain. Maka pelet bukan inti kejadian, melainkan hanya salah satu cara. Salah satu pintu. Salah satu alat yang dipakai semesta.
Karena itu sebab-sebab sebenarnya hanyalah kostum. Hari ini semesta memakai kostum ekonomi, besok memakai kostum cinta, besok lagi memakai kostum kesehatan, konflik, keberuntungan, relasi, atau kesempatan. Manusialah yang sibuk terpaku pada kostumnya lalu lupa melihat sesuatu yang bergerak di balik semua itu.
Kalau kamu bangkrut ya bangkrut saja. Kalau kamu naik daun ya naik daun saja. Kalau hubunganmu putus ya putus saja. Kalau hubunganmu bertahan ya bertahan saja. Manusia boleh mencari sebab, belajar, dan membaca pola, tetapi jangan sampai mengira bahwa dirinya sudah memahami cara kerja semesta sepenuhnya. Karena begitu kamu merasa sudah menemukan rumusnya, semesta bisa mengganti algoritmanya saat itu juga.
Semesta bukan mesin yang bisa ditebak sepenuhnya. Bukan matematika yang bisa dikunci dengan satu rumus. Laisa kamitslihi syai’un. Tidak ada yang benar-benar serupa dengan-Nya. Alfa Omega. Tak terdefinisikan. Tidak bisa dibaca sampai selesai. Tidak bisa diprediksi sepenuhnya. Tidak bisa diatur sepenuhnya.
Dan mungkin ujung dari perjalanan manusia bukan menjadi orang yang paling tahu, melainkan sadar bahwa dirinya sebenarnya tidak tahu apa-apa. Karena semakin jauh mencoba membaca semesta, semakin bingung manusia dibuatnya. Pada akhirnya hidup hanya bisa dijalani, disaksikan, dan diterima, karena semesta tidak pernah benar-benar mau ditundukkan oleh logika manusia.
0 Response to "SEMESTA SELALU PUNYA CARA"
Post a Comment