Salah satu kesalahpahaman terbesar manusia terhadap dirinya sendiri adalah mengira bahwa ketakutan harus dilawan, dihindari, dihilangkan, atau ditaklukkan. Sejak kecil kita diajarkan untuk menghindari hal-hal yang membuat tidak nyaman. Ketika takut kita lari. Ketika cemas kita mencari pengalihan. Ketika sedih kita mencari hiburan. Ketika gelisah kita mencari kesibukan. Akibatnya kita menjadi sangat terampil melarikan diri dari pengalaman batin kita sendiri, tetapi menjadi sangat asing terhadap diri kita sendiri. Kita mengenal dunia luar dengan sangat baik, tetapi tidak mengenal bagaimana pikiran bekerja, bagaimana rasa takut muncul, bagaimana tubuh bereaksi, dan bagaimana seluruh fenomena itu sebenarnya hanya terjadi di dalam ruang kesadaran yang lebih besar.
Jika diamati dengan jujur, rasa takut bukanlah sesuatu yang datang dari luar. Yang datang dari luar hanyalah peristiwa. Yang menciptakan ketakutan adalah pikiran. Ketika seseorang berjalan malam hari melewati kuburan, misalnya, kuburan itu hanya ada di sana. Pohon hanya berdiri. Angin hanya berhembus. Suara jangkrik hanya berbunyi. Kegelapan hanya hadir sebagai kegelapan. Namun pikiran mulai bekerja. Pikiran mulai memproduksi kemungkinan-kemungkinan. Pikiran mulai memunculkan bayangan. Pikiran mulai mengingat cerita-cerita yang pernah didengar. Pikiran mulai menghadirkan gambaran tentang makhluk halus, ular, orang jahat, suara aneh, dan berbagai kemungkinan buruk lainnya. Pada saat itulah tubuh mulai bereaksi. Jantung berdebar lebih cepat. Nafas menjadi pendek. Otot mulai menegang. Tubuh mulai bersiap menghadapi sesuatu yang bahkan belum tentu ada. Jika diperhatikan dengan sangat teliti, ketakutan itu sebenarnya bukan berasal dari kuburan, bukan berasal dari malam, bukan berasal dari tempat angker, melainkan berasal dari pikiran yang sedang menciptakan cerita.
Inilah yang sangat penting untuk dipahami. Ketakutan adalah produk pikiran. Tubuh hanya mengikuti perintah pikiran. Ketika pikiran mengatakan ada bahaya, tubuh langsung bereaksi. Ketika pikiran mengatakan ada ancaman, tubuh langsung bersiap. Padahal ancaman itu sering kali hanya berupa bayangan yang sedang diputar oleh pikiran itu sendiri. Karena itulah selama manusia masih percaya sepenuhnya kepada pikirannya, ia akan terus diperbudak oleh ketakutan. Bukan karena dunia terlalu menakutkan, tetapi karena pikirannya terus-menerus menciptakan ketakutan.
Lalu bagaimana cara melihat hal ini secara langsung, bukan hanya sebagai teori? Di sinilah seluruh tradisi meditasi, tapa, tafakur, puasa, kungkum, pati geni, dan berbagai laku kuno menjadi sangat menarik untuk dipahami. Banyak orang mengira bahwa orang-orang dahulu melakukan laku-laku tersebut untuk mencari kesaktian, mencari kekuatan gaib, mencari kekayaan, mencari pengaruh, mencari kewibawaan, atau mendapatkan kemampuan supranatural tertentu. Memang dalam praktiknya ada sebagian orang yang mengarahkan laku mereka ke sana. Namun jika kita melihat inti terdalamnya, laku-laku tersebut sebenarnya memiliki fungsi yang jauh lebih sederhana dan jauh lebih mendasar, yaitu mengenal diri sendiri.
Orang yang berpuasa sebenarnya sedang diberi kesempatan untuk melihat bagaimana pikirannya bereaksi ketika keinginan tidak dipenuhi. Orang yang melakukan kungkum sebenarnya sedang diberi kesempatan untuk melihat bagaimana tubuh dan pikiran bereaksi terhadap dingin. Orang yang melakukan pati geni sebenarnya sedang diberi kesempatan untuk melihat bagaimana pikiran bereaksi ketika tidak mendapatkan rangsangan dari luar. Orang yang duduk sendirian di tempat yang sepi sebenarnya sedang diberi kesempatan untuk melihat bagaimana pikiran memproduksi ketakutan, kecemasan, dan berbagai ilusi yang selama ini tersembunyi di balik kesibukan sehari-hari.
Ketika seseorang masuk ke dalam air untuk melakukan kungkum, yang terjadi bukan hanya tubuh menjadi dingin. Yang jauh lebih penting adalah apa yang terjadi di dalam dirinya. Tubuh mulai menggigil. Pikiran mulai mengeluh. Pikiran mulai mencari alasan untuk berhenti. Pikiran mulai mengatakan bahwa ini terlalu dingin, terlalu berat, terlalu lama, terlalu menyiksa. Pada saat itulah sesungguhnya proses pengenalan diri dimulai. Bukan pada airnya. Bukan pada ritualnya. Bukan pada tempatnya. Tetapi pada kemampuan seseorang untuk melihat bagaimana pikiran bereaksi terhadap pengalaman yang sedang terjadi.
Demikian pula ketika seseorang duduk sendirian pada malam hari di tempat yang dianggap angker. Setelah beberapa waktu, pikiran akan mulai bekerja. Pikiran akan menghadirkan berbagai kemungkinan. Pikiran akan memunculkan berbagai bayangan. Bahkan kadang-kadang pikiran dapat menciptakan pengalaman yang terasa sangat nyata. Di sinilah kebanyakan orang langsung melarikan diri. Mereka mengikuti ketakutan yang muncul. Mereka mempercayai seluruh cerita yang dibuat oleh pikiran. Akibatnya mereka tidak pernah sampai pada inti dari pengalaman tersebut.
Padahal jika seseorang tetap diam, tetap hadir, dan tetap mengamati tanpa melarikan diri, maka ia akan menemukan sesuatu yang sangat menarik. Ketakutan itu tidak terus bertambah selamanya. Ketakutan memiliki batas. Ketakutan memiliki puncak. Ketika rasa takut muncul dan kita tidak lari, rasa takut akan meningkat. Jika tetap tidak lari, rasa takut akan meningkat lagi. Jika tetap diam dan tetap mengamati, rasa takut akan terus bergerak menuju puncaknya. Namun setelah mencapai puncak, sesuatu yang tidak terduga mulai terjadi. Pikiran mulai kehabisan tenaga. Pikiran mulai kehilangan kemampuan untuk mempertahankan ketakutan itu. Pikiran mulai lelah menciptakan cerita. Pikiran mulai runtuh oleh bebannya sendiri.
Pada titik inilah terjadi sesuatu yang sangat penting dalam perjalanan spiritual. Pikiran terjatuh. Bukan karena dipaksa diam. Bukan karena dilawan. Bukan karena dihancurkan. Tetapi karena ia sudah mencapai batas kemampuannya sendiri. Sama seperti seseorang yang berlari sekencang-kencangnya akhirnya kelelahan. Sama seperti seseorang yang berteriak terus-menerus akhirnya kehabisan suara. Pikiran yang terus memproduksi ketakutan akhirnya kehabisan energi untuk mempertahankan ketakutannya sendiri.
Dan ketika pikiran terjatuh, yang tersisa adalah keheningan.
Inilah bagian yang sering tidak dipahami oleh banyak orang. Keheningan bukan sesuatu yang diciptakan. Keheningan bukan hasil latihan tertentu. Keheningan bukan sesuatu yang diperoleh dari luar. Keheningan selalu ada. Hanya saja selama ini tertutup oleh kebisingan pikiran. Ketika pikiran runtuh, keheningan itu mulai terlihat. Ketika ketakutan habis, keheningan itu mulai terasa. Ketika seluruh cerita yang dibuat pikiran kehilangan tenaganya, keheningan itu mulai merekah dengan sendirinya.
Pada saat itulah seseorang mulai melihat bahwa dirinya ternyata bukan ketakutan. Jika dirinya adalah ketakutan, maka ketika ketakutan hilang ia juga harus hilang. Tetapi ternyata tidak. Ia tetap ada. Ia mulai melihat bahwa dirinya bukan pikiran. Jika dirinya adalah pikiran, maka ketika pikiran diam ia juga harus lenyap. Tetapi ternyata ia tetap ada. Ia mulai melihat bahwa dirinya bukan emosi, bukan reaksi tubuh, bukan kenangan, bukan bayangan, bukan cerita, bukan identitas, dan bukan seluruh isi pikiran yang selama ini dianggap sebagai dirinya.
Yang tersisa adalah kesadaran yang murni. Kesadaran yang hanya hadir. Kesadaran yang hanya mengetahui. Kesadaran yang diam tetapi hidup. Kesadaran yang tidak takut meskipun ketakutan muncul di dalamnya. Kesadaran yang tidak terganggu meskipun pikiran sedang ribut. Kesadaran yang tidak berubah meskipun tubuh berubah. Kesadaran yang tidak tersentuh oleh seluruh fenomena yang datang dan pergi.
Karena itulah inti dari meditasi, tafakur, puasa, tapa, kungkum, pati geni, dan berbagai laku kuno sebenarnya bukan untuk mendapatkan sesuatu. Bukan untuk mencari kesaktian. Bukan untuk mempercepat rezeki. Bukan untuk melunasi hutang. Bukan untuk mendapatkan kekuatan gaib. Bukan untuk memperbesar pengaruh. Bukan untuk menjadi manusia yang lebih hebat daripada orang lain. Semua tujuan itu masih merupakan tujuan ego. Semua tujuan itu masih merupakan keinginan pikiran. Semua tujuan itu masih merupakan usaha untuk memperbesar identitas diri.
Di sinilah jalan spiritual dan jalan supranatural mulai berpisah. Dari luar keduanya bisa terlihat sama. Sama-sama puasa. Sama-sama bertapa. Sama-sama menyepi. Sama-sama melakukan ritual. Sama-sama melakukan meditasi. Namun arah batinnya berbeda. Jika seseorang melakukan semua itu untuk mendapatkan kekuatan, maka yang bertumbuh adalah ego. Jika seseorang melakukan semua itu untuk mendapatkan kemampuan tertentu, maka yang bertumbuh adalah ego. Jika seseorang melakukan semua itu untuk mencapai ambisi pribadi, maka yang bertumbuh adalah ego. Tetapi jika seseorang melakukan semua itu untuk mengenal dirinya sendiri, mengenal pikirannya sendiri, mengenal ketakutannya sendiri, mengenal alam bawah sadarnya sendiri, dan mengenal kesadaran yang berada di balik semua itu, maka yang terjadi adalah pembebasan dari ego.
Karena tujuan tertinggi dari seluruh laku bukanlah mendapatkan sesuatu yang baru. Tujuan tertingginya adalah melihat apa yang selama ini sudah ada tetapi tertutupi oleh kebisingan pikiran. Melihat bahwa di balik seluruh ketakutan terdapat keheningan. Di balik seluruh kecemasan terdapat keluasan. Di balik seluruh identitas terdapat kesadaran yang tidak memiliki identitas. Dan di balik seluruh pencarian terdapat diri sejati yang tidak pernah hilang, tidak pernah rusak, tidak pernah terluka, dan tidak pernah membutuhkan apa pun untuk menjadi utuh.
Maka ketika rasa takut datang, jangan buru-buru lari. Ketika tubuh menggigil, jangan buru-buru menghindar. Ketika pikiran menciptakan berbagai cerita menakutkan, jangan buru-buru mempercayainya. Duduklah diam. Amati. Saksikan. Biarkan ketakutan bergerak sampai mencapai puncaknya. Biarkan pikiran menghabiskan seluruh tenaganya. Karena sering kali gerbang menuju diri sejati bukan terletak pada keberhasilan mengalahkan ketakutan, melainkan pada keberanian untuk tetap hadir sampai ketakutan itu habis dengan sendirinya. Di sanalah pikiran terjatuh. Di sanalah keheningan muncul. Dan di sanalah seseorang mulai pulang kepada dirinya yang sesungguhnya.
0 Response to "KETIKA RASA TAKUT MENCAPAI PUNCAKNYA MAKA YANG TERSISA ADALAH KEHENINGAN"
Post a Comment