HIDUP INI ADALAH KENYATAAN, DAN DI LUAR KENYATAAN ITU BUKAN
Hidup ini adalah kenyataan. Sesederhana itu. Kehidupan yang sebenarnya bukanlah pikiran, bukan keyakinan, bukan persepsi, bukan perasaan, bukan imajinasi, bukan harapan, bukan ketakutan, dan bukan pula cerita yang terus-menerus diproduksi oleh batin. Kehidupan adalah apa yang benar-benar terjadi saat ini. Kehidupan adalah fakta yang sedang berlangsung sekarang. Kehidupan adalah kenyataan yang hadir tepat di depan kita sebelum diberi nama, sebelum dinilai, sebelum ditafsirkan, sebelum disukai atau dibenci oleh pikiran.
Masalahnya, sebagian besar manusia tidak hidup di dalam kenyataan. Sebagian besar manusia hidup di dalam pikirannya sendiri. Tubuhnya berada di dunia nyata, tetapi kesadarannya berada di dunia yang diciptakan oleh pikiran. Ia lebih banyak hidup dalam tafsir daripada dalam fakta. Ia lebih banyak hidup dalam cerita daripada dalam kenyataan. Ia lebih banyak hidup dalam ketakutan tentang masa depan dan penyesalan tentang masa lalu daripada hidup dalam apa yang benar-benar sedang terjadi.
Ketika sebuah toko sedang sepi, kenyataannya sangat sederhana. Toko sedang sepi. Hanya itu. Tidak lebih dan tidak kurang. Tetapi pikiran tidak pernah berhenti pada kenyataan. Pikiran segera menambahkan berbagai cerita. Pikiran berkata bahwa ini berbahaya. Pikiran berkata bahwa ini pertanda buruk. Pikiran berkata bahwa usaha ini akan gagal. Pikiran berkata bahwa masa depan akan hancur. Pikiran berkata bahwa orang lain lebih beruntung. Pikiran berkata bahwa keadaan ini tidak boleh terjadi. Sejak saat itu seseorang tidak lagi berhubungan dengan kenyataan. Ia berhubungan dengan pikirannya tentang kenyataan.
Kenyataannya tetap toko sedang sepi. Tetapi penderitaan muncul karena pikiran menolak kenyataan tersebut. Jika tidak ada penolakan, maka yang ada hanyalah toko yang sedang sepi. Sama seperti langit yang sedang mendung atau matahari yang sedang bersinar. Semuanya hanya keadaan yang sedang terjadi. Penderitaan lahir ketika pikiran berkata bahwa kenyataan ini salah dan harus diganti dengan kenyataan lain.
Begitu juga ketika seseorang hanya memiliki uang sepuluh ribu rupiah. Fakta yang ada hanyalah uang yang tersedia saat ini adalah sepuluh ribu rupiah. Itulah kenyataan. Tetapi kemudian pikiran mulai bekerja. Pikiran mengatakan bahwa jumlah itu terlalu sedikit. Pikiran mengatakan bahwa jumlah itu tidak cukup. Pikiran mengatakan bahwa jumlah itu menakutkan. Pikiran mengatakan bahwa jumlah itu adalah bukti kegagalan. Padahal tidak ada satu pun dari semua kalimat tersebut yang merupakan kenyataan. Semua itu hanyalah penilaian. Semua itu hanyalah kesimpulan. Semua itu hanyalah persepsi.
Sepuluh ribu rupiah adalah kenyataan. Takut adalah reaksi. Khawatir adalah reaksi. Merasa miskin adalah reaksi. Merasa gagal adalah reaksi. Merasa tidak aman adalah reaksi. Kenyataan dan reaksi adalah dua hal yang berbeda. Tetapi manusia sering mencampurkan keduanya sehingga mengira reaksinya adalah kenyataan itu sendiri.
Ketika seseorang meninggalkan kita, kenyataannya sederhana. Orang itu pergi. Hanya itu. Tetapi kemudian pikiran menciptakan ribuan cerita. Aku tidak dicintai. Aku tidak berharga. Aku ditolak. Aku gagal. Hidupku hancur. Aku tidak akan bahagia lagi. Tidak satu pun dari kalimat tersebut adalah kenyataan. Semua itu hanyalah tafsir. Semua itu hanyalah cerita. Semua itu hanyalah kesimpulan yang lahir dari pikiran.
Kenyataan selalu sederhana. Pikiran selalu rumit. Kenyataan hanya menunjukkan apa yang ada. Pikiran menambahkan apa yang seharusnya ada. Kenyataan hanya menunjukkan fakta. Pikiran menambahkan penilaian. Kenyataan netral. Pikiran memberi label.
Ketika hujan turun, itu adalah kenyataan. Tetapi mengatakan hujan ini menyenangkan atau hujan ini menyebalkan adalah persepsi. Ketika matahari bersinar, itu adalah kenyataan. Tetapi mengatakan ini berkah atau ini bencana adalah persepsi. Ketika seseorang memuji kita, itu adalah kenyataan. Tetapi merasa diri lebih hebat karena pujian itu adalah reaksi pikiran. Ketika seseorang menghina kita, itu adalah kenyataan. Tetapi merasa diri hancur karena hinaan itu juga merupakan reaksi pikiran.
Realitas selalu netral. Realitas tidak memiliki pendapat. Realitas tidak memiliki penilaian. Realitas tidak mengatakan baik atau buruk. Realitas tidak mengatakan untung atau rugi. Realitas tidak mengatakan berhasil atau gagal. Semua penilaian itu berasal dari pikiran manusia.
Karena itulah seseorang bisa mengalami kejadian yang sama tetapi memiliki pengalaman batin yang berbeda. Dua orang bisa kehilangan pekerjaan pada hari yang sama. Yang satu merasa hidupnya berakhir. Yang satu merasa hidupnya baru dimulai. Kejadiannya sama, tetapi persepsinya berbeda. Ini menunjukkan bahwa penderitaan tidak selalu berasal dari kenyataan. Penderitaan sering kali berasal dari cara pikiran memandang kenyataan.
Semakin seseorang tenggelam dalam pikirannya, semakin jauh ia dari kehidupan yang sebenarnya. Ia tidak lagi melihat apa yang ada. Ia hanya melihat apa yang dipikirkan tentang apa yang ada. Ia tidak lagi hidup dalam realitas. Ia hidup dalam lapisan demi lapisan tafsir yang dibuat oleh pikirannya sendiri.
Ketika berjalan, ia tidak benar-benar berjalan karena pikirannya sibuk memikirkan masa depan. Ketika makan, ia tidak benar-benar makan karena pikirannya sibuk mengingat masa lalu. Ketika berbicara dengan seseorang, ia tidak benar-benar hadir karena pikirannya sibuk memikirkan bagaimana dirinya dinilai. Tubuhnya ada di sini, tetapi kesadarannya tidak ada di sini. Akibatnya ia kehilangan kehidupan yang nyata demi kehidupan yang dibayangkan.
Hidup yang sesungguhnya hanya bisa ditemukan di dalam kenyataan. Bukan di dalam pikiran tentang kenyataan. Bukan di dalam keyakinan tentang kenyataan. Bukan di dalam harapan tentang kenyataan. Bukan di dalam ketakutan tentang kenyataan. Tetapi di dalam kenyataan itu sendiri.
Ketika lapar, kenyataannya adalah lapar. Ketika kenyang, kenyataannya adalah kenyang. Ketika hujan, kenyataannya adalah hujan. Ketika gagal, kenyataannya adalah gagal. Ketika berhasil, kenyataannya adalah berhasil. Ketika sendiri, kenyataannya adalah sendiri. Ketika bersama orang lain, kenyataannya adalah bersama orang lain. Semua itu adalah kehidupan yang nyata.
Yang membuat manusia menderita bukan karena kenyataan terlalu berat, tetapi karena pikirannya terus bertengkar dengan kenyataan. Pikiran selalu ingin kenyataan berbeda dari apa yang sedang terjadi. Pikiran selalu memiliki gambaran tentang bagaimana hidup seharusnya berjalan. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan gambaran itu, muncullah kekecewaan, kemarahan, ketakutan, kecemasan, dan berbagai bentuk penderitaan lainnya.
Semakin seseorang menerima kenyataan apa adanya, semakin ringan hidupnya. Bukan karena masalah hilang, tetapi karena ia tidak lagi menambahkan beban baru berupa penolakan mental. Ia melihat kenyataan sebagai kenyataan. Ia melihat fakta sebagai fakta. Ia tidak mencampurkan fakta dengan cerita. Ia tidak mencampurkan kejadian dengan penilaian. Ia tidak mencampurkan realitas dengan khayalan.
Di titik inilah seseorang mulai benar-benar hidup. Ia tidak lagi hidup dalam bayangan masa lalu. Ia tidak lagi hidup dalam ketakutan masa depan. Ia tidak lagi hidup dalam cerita yang diciptakan oleh pikirannya. Ia hidup dalam apa yang benar-benar ada saat ini.
Karena hidup bukanlah apa yang kita pikirkan. Hidup bukanlah apa yang kita yakini. Hidup bukanlah apa yang kita harapkan. Hidup bukanlah apa yang kita takutkan. Hidup bukanlah apa yang kita khayalkan.
Hidup adalah kenyataan.
Dan di luar kenyataan, tidak ada kehidupan. Yang ada hanyalah pikiran yang sedang berbicara kepada dirinya sendiri. Yang ada hanyalah cerita yang sedang diciptakan oleh batin. Yang ada hanyalah dunia khayalan yang terlihat nyata karena terus-menerus dipercaya. Sementara kehidupan yang sesungguhnya selalu berada di sini, selalu berada saat ini, selalu berada pada kenyataan yang sedang terjadi, apa adanya, tanpa perlu ditambah, tanpa perlu dikurangi, dan tanpa perlu menjadi sesuatu yang lain.
0 Response to "HIDUP INI ADALAH KENYATAAN, DAN DI LUAR KENYATAAN ITU BUKAN "
Post a Comment