Barusan saya sedang berada di pinggir danau di daerah Pati yang dekat 5 menit dari rumah saya. Di utara desa saya juga ada danau sekitar 10 menit perjalanan, dan di selatannya lagi sekitar 20 menit. Ketika saya mengamati air di sana, saya melihat bahwa saat ada angin otomatis permukaan air menjadi bergelombang. Namun ternyata tidak hanya itu. Saya mulai melihat ada dua fenomena gelombang: gelombang atas dan gelombang bawah.
Ketika saya memperhatikan bagian lain dari danau, ternyata ada juga gelombang yang bukan disebabkan oleh angin. Gelombang itu seperti bergerak dari bawah, sementara permukaan atasnya justru terlihat sangat tenang. Di situlah saya mulai berpikir untuk menyambungkannya dengan fenomena yang terjadi di dalam diri manusia.
Saya melihat bahwa apa yang terjadi di luar ternyata juga terjadi di dalam. Makrokosmos dan mikrokosmos itu sama. Ketika kita mengamati alam semesta di luar, sebenarnya kita juga sedang mengamati diri sendiri. Alam seperti cermin. Yang di luar mencerminkan yang di dalam.
Dan fenomena air tadi ternyata sangat mirip dengan manusia. Ada orang yang riaknya terlihat di luar. Ada yang riaknya terjadi di dalam. Dan ada pula yang tenang di luar maupun di dalam.
Orang yang tenang di luar dan tenang di dalam menurut saya adalah orang-orang yang kesadarannya sangat tinggi. Tidak ada riak sama sekali. Sama seperti kisah Sang Buddha ketika akan dibunuh tetapi tetap tenang, atau seperti Nabi Muhammad yang tetap tenang meskipun berada dalam ancaman. Tidak ada reaksi di luar maupun di dalam. Tidak ada ketakutan, tidak ada kepanikan, tidak ada pergeseran kesadaran. Kesadarannya sangat bening.
Namun kebanyakan manusia berada di tahap riak di luar. Ketika ada sesuatu yang memicu emosi, langsung bereaksi. Ketika marah langsung meledak. Ketika tersinggung langsung bicara. Ketika butuh validasi langsung selfie dan upload. Ketika HP berbunyi tangan otomatis bergerak mengambilnya. Semuanya sangat refleks dan spontan.
Saya sendiri juga pernah seperti itu. Ketika ada sesuatu yang memicu di dalam diri, tubuh langsung bergerak mengekspresikannya. Inilah yang menurut saya berkaitan dengan otak reptil atau reptilian mood, yaitu bagian paling purba dari manusia yang sangat cepat bereaksi terhadap rangsangan. Ada stimulus sedikit langsung bergerak. Ada pemicu sedikit langsung bereaksi. Tidak ada jeda kesadaran.
Namun ketika mulai belajar meditasi, kesadaran, keheningan, dan spiritualitas, perlahan kita mulai belajar masuk ke riak di dalam. Sama seperti air yang tenang di permukaan tetapi di bawahnya tetap bergerak. Namun di sini ada perbedaan yang sangat penting. Riak di dalam karena kesadaran sangat berbeda dengan riak di dalam karena penekanan.
Ada orang yang terlihat tenang di luar tetapi sebenarnya penuh gejolak di dalam karena menahan emosi. Ini justru berbahaya. Kemarahan yang ditahan bertahun-tahun bisa menjadi luka batin. Seksualitas yang ditekan karena doktrin dan ketakutan juga bisa menjadi ledakan yang jauh lebih berbahaya. Jadi yang saya maksud riak di dalam bukan menahan, tetapi menyadari.
Ketika kita meditasi misalnya, mungkin muncul banyak hal di dalam. Libido naik, pikiran muncul terus, ketakutan datang, tubuh sakit, kaki kesemutan, rasa ingin bergerak, rasa ingin minum, bahkan takut hantu atau takut hewan liar. Banyak sekali yang berkecamuk baik di pikiran maupun di tubuh. Tetapi tubuh tetap dijaga untuk diam.
Tubuh tetap mematung seperti batu. Tidak bereaksi. Tidak mengikuti dorongan itu, tetapi juga tidak menahannya. Semuanya hanya diamati dan disaksikan secara netral. Kesemutan diamati. Ketakutan diamati. Libido diamati. Pikiran diamati. Semuanya dibiarkan bergerak di dalam tanpa diterjemahkan menjadi tindakan tubuh.
Di situlah saya mulai memahami fenomena “lari ke dalam.” Spiritual bukan lari keluar, tetapi lari ke dalam. Seluruh gejolak itu dibawa masuk ke dalam kesadaran. Diledakkan di dalam. Dilebur di dalam. Diselesaikan di dalam.
Tubuh tetap diam, tetapi di dalam terjadi pengamatan total terhadap seluruh pergerakan batin. Kita tidak menolak, tetapi juga tidak mengikuti. Tidak melekat, tetapi juga tidak melawan. Hanya menyaksikan.
Dan ketika latihan ini dibawa ke kehidupan sehari-hari, dampaknya sangat besar. Saat bekerja dengan bos, kita tidak mudah drama. Saat ada konflik dengan pasangan, kita tidak langsung bereaksi. Ketika cemburu, takut ditinggalkan, takut tidak diakui, semuanya diamati di dalam tanpa langsung dilampiaskan keluar.
Kita menyelesaikannya di dalam.
Ketika muncul rasa ingin validasi, kita saksikan. Ketika muncul rasa tidak dihargai, kita saksikan. Ketika muncul rasa takut, kita saksikan. Tidak diikuti, tetapi juga tidak ditolak.
Dan minimal yang terjadi adalah kedamaian. Minimal tidak terjadi konflik yang tidak perlu. Minimal kita tetap baik-baik saja di tengah kehidupan yang terus bergerak.
Semakin kita mampu menyaksikan seluruh riak itu di dalam tanpa bereaksi, perlahan kesadaran menjadi semakin bening. Dan mungkin di tahap berikutnya, seseorang bisa sampai pada keadaan tenang di luar dan tenang di dalam sekaligus.
Semua refleksi ini muncul hanya karena saya duduk mengamati air danau. Dari riak air yang sederhana, ternyata saya melihat cermin tentang cara kerja manusia, cara kerja emosi, dan cara kerja kesadaran itu sendiri.
0 Response to "RIAK DILUAR, RIAK DIDALAM"
Post a Comment