Bodo amat, peduli amat. Bagi sebagian orang, kalimat ini terdengar kasar, terdengar masa bodoh, terdengar seperti ungkapan orang yang putus asa atau tidak bertanggung jawab terhadap kehidupan. Namun dalam pemahaman spiritual yang mendalam, kalimat ini justru dapat menjadi salah satu pintu menuju kebebasan batin yang sangat besar. Tentu bukan dalam arti menjadi orang yang tidak peduli kepada sesama, bukan dalam arti menjadi orang yang malas bekerja, bukan pula menjadi orang yang lari dari tanggung jawab. Yang dimaksud adalah tidak lagi melekat secara batin kepada segala sesuatu yang terus berubah di dunia ini. Sebab akar penderitaan manusia bukanlah peristiwa yang terjadi, melainkan keterikatan terhadap bagaimana peristiwa itu seharusnya terjadi. Kita menderita bukan karena kenyataan, melainkan karena pikiran terus-menerus membandingkan kenyataan dengan harapan, membandingkan kenyataan dengan keinginan, membandingkan kenyataan dengan angan-angan yang diciptakannya sendiri.
Sejak kecil manusia dididik untuk membandingkan. Ketika sekolah dibandingkan dengan teman sekelas. Ketika remaja dibandingkan dengan saudara. Ketika dewasa dibandingkan dengan tetangga. Ketika bekerja dibandingkan dengan rekan kerja. Ketika berumah tangga dibandingkan dengan keluarga lain. Bahkan ketika sudah tua pun masih membandingkan cucu, rumah, kendaraan, dan pencapaian. Akibatnya kehidupan yang sebenarnya sederhana menjadi sangat berat. Padahal jika diperhatikan dengan jujur, sebelum membandingkan sebenarnya tidak ada masalah. Masalah muncul tepat pada saat pikiran mulai berkata, "Mengapa hidupku tidak seperti dia?" atau "Seharusnya aku sudah berada di posisi itu." Kalimat seharusnya itulah yang menjadi sumber penderitaan. Kenyataan tidak pernah mengenal kata seharusnya. Kenyataan hanya mengenal apa yang sedang ada saat ini.
Ketika teman membeli rumah tiga lantai sementara kita masih tinggal di rumah sederhana, pikiran langsung bergerak membuat cerita. Ketika teman membeli mobil baru sementara kita masih menggunakan kendaraan lama, pikiran mulai menciptakan rasa kurang. Ketika teman menikah dan terlihat bahagia, pikiran mulai mempertanyakan nasib sendiri. Ketika teman memiliki penghasilan ratusan juta per bulan, pikiran mulai merasa tertinggal. Padahal semua penderitaan itu tidak berasal dari rumah mereka, mobil mereka, pasangan mereka, atau uang mereka. Semua penderitaan itu lahir dari pikiran yang membandingkan. Karena itu dalam konteks spiritual, jawabannya sederhana: teman beli rumah tiga lantai, bodo amat, peduli amat. Teman beli mobil baru, bodo amat, peduli amat. Teman jadi artis, bodo amat, peduli amat. Teman viral di media sosial, bodo amat, peduli amat. Teman punya jutaan pengikut, bodo amat, peduli amat. Teman dapat penghargaan, bodo amat, peduli amat. Bukan karena iri, bukan karena benci, melainkan karena sadar bahwa kehidupan mereka bukan kehidupan kita. Perjalanan mereka bukan perjalanan kita. Takdir mereka bukan takdir kita.
Begitu pula terhadap tubuh. Banyak orang hidup dalam penderitaan karena tubuhnya tidak sesuai dengan standar yang dibentuk masyarakat. Ada yang merasa terlalu gemuk, terlalu kurus, terlalu pendek, terlalu tinggi, terlalu tua, terlalu muda, terlalu hitam, terlalu putih, terlalu banyak keriput, terlalu sedikit rambut, terlalu banyak uban, terlalu banyak bekas luka, dan berbagai macam penilaian lainnya. Akibatnya hidup habis hanya untuk memikirkan bagaimana terlihat lebih baik di mata orang lain. Padahal tubuh adalah sesuatu yang pasti berubah. Tidak ada satu pun manusia yang bisa mempertahankan masa mudanya selamanya. Tidak ada satu pun manusia yang bisa mempertahankan kecantikannya selamanya. Tidak ada satu pun manusia yang bisa mempertahankan ketampanannya selamanya. Maka ketika ada yang berkata badanmu gemuk, bodo amat, peduli amat. Ketika ada yang berkata wajahmu mulai tua, bodo amat, peduli amat. Ketika ada yang mengejek rambutmu rontok, bodo amat, peduli amat. Ketika ada yang menertawakan pakaianmu sederhana, bodo amat, peduli amat. Karena tubuh hanyalah kendaraan sementara dalam perjalanan kehidupan ini.
Dalam dunia pekerjaan dan keuangan, keterikatan bahkan lebih besar lagi. Banyak orang bangun pagi dengan tujuan utama mengalahkan orang lain. Ketika teman naik jabatan, hati panas. Ketika teman mendapat bonus, hati gelisah. Ketika teman membuka usaha dan berhasil, hati mulai membandingkan. Ketika teman membeli aset baru, pikiran mulai resah. Padahal kekayaan tidak pernah menjamin kedamaian. Jabatan tidak pernah menjamin kebahagiaan. Popularitas tidak pernah menjamin ketenangan. Karena itu ketika teman menjadi direktur, bodo amat, peduli amat. Ketika teman mendapatkan omzet miliaran, bodo amat, peduli amat. Ketika teman mendapat investor besar, bodo amat, peduli amat. Ketika usaha sedang sepi, bodo amat, peduli amat. Ketika proposal ditolak, bodo amat, peduli amat. Ketika pelanggan membatalkan pesanan, bodo amat, peduli amat. Ketika bisnis gagal, bodo amat, peduli amat. Sebab nilai diri seseorang tidak pernah ditentukan oleh angka yang ada di rekeningnya. Nilai diri seseorang tidak pernah ditentukan oleh besar kecilnya omzet. Semua itu hanyalah peristiwa yang datang dan pergi.
Dalam keluarga pun demikian. Banyak luka batin yang sebenarnya lahir dari harapan-harapan yang tidak terpenuhi. Kita berharap keluarga memahami kita, tetapi mereka tidak memahami. Kita berharap saudara bersikap adil, tetapi mereka tidak adil. Kita berharap warisan dibagi rata, tetapi kenyataannya tidak. Kita berharap orang tua mengerti perjuangan kita, tetapi mereka justru membandingkan kita dengan saudara yang lain. Akhirnya hati dipenuhi kemarahan selama bertahun-tahun. Padahal semakin kita menolak kenyataan, semakin lama kita tersiksa. Karena itu ketika saudara mendapatkan bagian lebih banyak, bodo amat, peduli amat. Ketika nama kita tidak disebut dalam pembagian warisan, bodo amat, peduli amat. Ketika keluarga lebih memihak orang lain, bodo amat, peduli amat. Ketika kita digosipkan satu kampung, bodo amat, peduli amat. Ketika dituduh macam-macam, bodo amat, peduli amat. Sebab kedamaian batin jauh lebih berharga daripada kemenangan ego.
Dalam urusan percintaan, keterikatan menjadi sangat terlihat. Banyak orang merasa hidupnya hancur hanya karena seseorang pergi. Banyak orang kehilangan semangat hidup karena hubungan berakhir. Banyak orang tidak bisa tidur karena mantan menikah dengan orang lain. Semua itu menunjukkan bahwa sumber kebahagiaan diletakkan pada sesuatu yang berada di luar diri. Padahal segala sesuatu yang berada di luar diri pasti berubah. Maka ketika pasangan berubah, bodo amat, peduli amat. Ketika gebetan memilih orang lain, bodo amat, peduli amat. Ketika mantan menikah, bodo amat, peduli amat. Ketika hubungan berakhir, bodo amat, peduli amat. Ketika seseorang yang dulu bersumpah setia akhirnya pergi, bodo amat, peduli amat. Bukan berarti tidak sedih. Kesedihan boleh muncul. Air mata boleh mengalir. Namun setelah itu kembali kepada kenyataan saat ini. Kembali kepada napas yang sedang berjalan. Kembali kepada kehidupan yang tetap berlangsung.
Bahkan dalam urusan sosial media, manusia modern menemukan bentuk penderitaan baru yang sebelumnya tidak pernah ada dalam sejarah. Banyak orang mengukur nilai dirinya dari jumlah penonton, jumlah pengikut, jumlah suka, jumlah komentar, dan berbagai angka digital lainnya. Hari ini bahagia karena viral, besok sedih karena sepi. Hari ini merasa hebat karena banyak yang memuji, besok hancur karena ada yang menghina. Kehidupan menjadi naik turun mengikuti statistik. Padahal semua itu hanyalah angka. Karena itu ketika unggahan sepi, bodo amat, peduli amat. Ketika tidak ada yang memberi tanda suka, bodo amat, peduli amat. Ketika jumlah pengikut turun, bodo amat, peduli amat. Ketika konten tidak masuk algoritma, bodo amat, peduli amat. Sebab kehidupan nyata tidak pernah diukur oleh angka-angka tersebut.
Pada tingkat yang lebih dalam lagi, sikap bodo amat, peduli amat sebenarnya adalah penghancuran total terhadap konsep "aku" yang selama ini dibela mati-matian oleh pikiran. Sebagian besar penderitaan muncul karena ada sosok aku yang ingin selalu menang, ingin selalu benar, ingin selalu dipuji, ingin selalu dihormati, ingin selalu berhasil, ingin selalu dianggap penting. Ketika keinginan-keinginan itu tidak terpenuhi, muncullah penderitaan. Namun ketika seseorang mulai melihat bahwa seluruh identitas itu hanyalah kumpulan cerita yang diciptakan pikiran, perlahan keterikatan mulai runtuh. Tidak ada lagi kebutuhan untuk menjadi lebih hebat daripada orang lain. Tidak ada lagi kebutuhan untuk membuktikan sesuatu kepada dunia. Tidak ada lagi kebutuhan untuk terlihat sukses. Yang tersisa hanyalah menjalani kehidupan sebagaimana adanya.
Dalam banyak tradisi spiritual, keadaan ini sering digambarkan sebagai kematian ego. Bukan kematian fisik, melainkan kematian pusat keterikatan. Ketika pusat keterikatan itu mati, seseorang menjadi seperti wayang yang mati. Wayang yang mati tidak mempunyai agenda pribadi. Wayang yang mati tidak memaksa alur cerita. Wayang yang mati tidak protes ketika dijadikan raja dan tidak mengeluh ketika dijadikan pengemis. Wayang yang mati bergerak mengikuti tangan dalang. Jika dalang menggerakkan ke kanan, ia bergerak ke kanan. Jika dalang menggerakkan ke kiri, ia bergerak ke kiri. Jika dalang mengangkatnya tinggi, ia terangkat. Jika dalang menurunkannya rendah, ia turun. Demikian pula manusia yang telah menerima kehidupan secara total. Ketika kaya datang, ia menjalankan peran orang kaya. Ketika miskin datang, ia menjalankan peran orang miskin. Ketika dipuji, ia menjalankan peran orang yang dipuji. Ketika dihina, ia menjalankan peran orang yang dihina. Ketika berhasil, ia menjalankan peran keberhasilan. Ketika gagal, ia menjalankan peran kegagalan. Tidak ada perlawanan terhadap kenyataan. Tidak ada tuntutan kepada semesta. Tidak ada syarat untuk bahagia.
Di titik inilah seseorang benar-benar hidup di sini, saat ini, sekarang. Bukan hidup di masa lalu yang sudah hilang. Bukan hidup di masa depan yang belum datang. Bukan hidup dalam angan-angan tentang bagaimana hidup seharusnya terjadi. Ia hidup dalam apa yang sedang terjadi. Jika sedang makan, ia hanya makan. Jika sedang berjalan, ia hanya berjalan. Jika sedang bekerja, ia hanya bekerja. Jika sedang beristirahat, ia hanya beristirahat. Tidak ada lagi perlombaan batin yang terus-menerus membandingkan dirinya dengan dunia. Tidak ada lagi obsesi untuk menjadi sesuatu yang lain. Tidak ada lagi perjuangan untuk mengejar gambaran ideal yang diciptakan pikiran.
Maka pada akhirnya, "bodo amat, peduli amat" bukanlah slogan kemalasan. Ia adalah deklarasi kebebasan. Kebebasan dari perbandingan. Kebebasan dari harapan yang berlebihan. Kebebasan dari tuntutan pikiran. Kebebasan dari ilusi bahwa kebahagiaan berada di masa depan. Sebab ketika seseorang berhenti mengejar kehidupan yang seharusnya dan mulai menerima kehidupan yang ada, ia menemukan sesuatu yang selama ini dicari ke mana-mana: kedamaian yang tidak bergantung pada keadaan apa pun. Dan dari kedamaian itulah lahir kemampuan untuk menjalani seluruh peran kehidupan secara utuh, total, tanpa kompromi, tanpa penolakan, tanpa keluhan, seperti wayang yang menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada gerak Sang Dalang. Bodo amat, peduli amat. Yang ada hanyalah saat ini. Yang ada hanyalah di sini. Yang ada hanyalah kehidupan sebagaimana adanya.
0 Response to "BODO AMAT, PEDULI AMAT"
Post a Comment