Saya teringat percakapan antara Ryu Hasan dengan anaknya. Pada waktu itu anaknya tidak terlalu ingin kuliah karena merasa banyak orang sukses justru tidak menyelesaikan pendidikan formalnya. Ia melihat tokoh-tokoh seperti Elon Musk, Steve Jobs, dan beberapa tokoh besar lain yang jalannya tidak selalu lurus mengikuti sistem pendidikan.
Lalu muncul pertanyaan sederhana:
“Kalau banyak orang sukses tanpa kuliah, lalu untuk apa kuliah?”
Jawaban dari dr. Ryu Hasan sangat menarik.
“Kuliah itu bukan untuk menjamin kamu sukses atau kaya. Kuliah hanya memperbesar kemungkinan untuk sukses.”
Kalimat ini sederhana, tetapi sangat dalam.
Karena memang tidak ada jaminan mutlak di dunia ini.
Kuliah tidak menjamin sukses.
Tidak kuliah juga tidak menjamin gagal.
Bisnis tidak menjamin kaya.
Kerja keras tidak menjamin berhasil.
Meditasi tidak menjamin tercerahkan.
Berdoa tidak menjamin semua keinginan terkabul.
Semuanya hanyalah kemungkinan.
Dan hidup memang bergerak di antara kemungkinan-kemungkinan itu.
Ada kemungkinan berhasil.
Ada kemungkinan gagal.
Ada kemungkinan kaya.
Ada kemungkinan bangkrut.
Ada kemungkinan dicintai.
Ada kemungkinan dikhianati.
Ada kemungkinan sehat.
Ada kemungkinan sakit.
Ada kemungkinan masuk surga.
Ada kemungkinan masuk neraka.
Tidak ada kepastian absolut selama manusia masih hidup di bumi.
Dan justru di situlah uniknya kehidupan.
Karena kalau semuanya pasti, hidup tidak lagi menjadi petualangan.
Dalam banyak kajian spiritual, manusia sering dipahami sebagai makhluk kesadaran atau makhluk cahaya yang memasuki tubuh fisik untuk mengalami kehidupan bumi. Tubuh ini seperti kendaraan. Dunia ini seperti arena permainan besar yang penuh dengan warna pengalaman.
Tujuan utamanya bukan sekadar menang atau kalah.
Tetapi mengalami.
Mengalami sedih.
Mengalami bahagia.
Mengalami cinta.
Mengalami kehilangan.
Mengalami keberhasilan.
Mengalami kegagalan.
Mengalami kekurangan.
Mengalami kelimpahan.
Mengalami pengkhianatan.
Mengalami penghargaan.
Semua itu adalah warna-warna pengalaman bumi.
Tetapi setelah turun ke bumi, manusia malah mulai pilih-pilih pengalaman.
Kita hanya ingin yang nyaman.
Hanya ingin yang enak.
Hanya ingin yang berhasil.
Hanya ingin yang menyenangkan.
Sedangkan penderitaan ditolak.
Kegagalan ditolak.
Kesedihan ditolak.
Kerugian ditolak.
Padahal justru semua itu bagian dari pengalaman yang ingin dialami.
Bayangkan seseorang datang ke taman hiburan tetapi hanya mau naik satu wahana karena takut merasakan wahana lain.
Padahal tujuan datang ke sana untuk mencoba berbagai rasa.
Begitu juga hidup.
Kadang manusia terlalu takut gagal sampai akhirnya memilih diam.
Tidak mencoba bisnis karena takut rugi.
Tidak berkarya karena takut dihina.
Tidak jatuh cinta karena takut ditolak.
Tidak bergerak karena takut kecewa.
Akhirnya memang tidak gagal.
Tetapi juga tidak pernah benar-benar hidup.
Karena hidup bukan hanya tentang berhasil.
Hidup adalah tentang mengalami.
Kalau seseorang bergerak lalu gagal, setidaknya ia sudah mengalami kegagalan itu secara nyata. Ia sudah merasakan salah satu warna kehidupan.
Dan itu bukan kesalahan.
Justru itu bagian dari pengalaman bumi.
Sedangkan orang yang diam karena terlalu takut gagal, ia tidak mengalami keberhasilan maupun kegagalan. Ia menggantung di tengah.
Tidak jatuh.
Tetapi juga tidak terbang.
Inilah kenapa keberanian bergerak jauh lebih penting daripada obsesi terhadap hasil.
Karena hasil selalu berada di wilayah kemungkinan.
Tetapi bergerak adalah keputusan sadar.
Ketika seseorang memahami ini, hidupnya mulai terasa lebih ringan.
Ia tetap punya tujuan, tetapi tidak diperbudak hasil.
Ia tetap bekerja keras, tetapi tidak panik ketika gagal.
Ia tetap melangkah, tetapi tidak memaksa hidup harus sesuai skenario pikirannya.
Karena ia sadar:
tugas manusia hanyalah bergerak dan mengalami.
Hasil akhir tetap wilayah kemungkinan.
Dan anehnya, justru ketika seseorang tidak terlalu terobsesi pada keberhasilan dan tidak terlalu takut penderitaan, mentalnya menjadi jauh lebih kuat.
Ia lebih berani mencoba.
Lebih santai menghadapi risiko.
Lebih tahan banting ketika jatuh.
Dan orang yang tidak terlalu takut gagal biasanya justru lebih mudah berhasil.
Karena ia tidak lumpuh oleh ketakutan.
Banyak orang gagal bukan karena kurang pintar, tetapi karena terlalu takut merasakan kegagalan.
Akhirnya tidak bergerak sama sekali.
Padahal ketika kita bergerak, dua kemungkinan memang selalu ada:
berhasil atau gagal.
Dan dua-duanya sebenarnya tidak masalah.
Kalau berhasil, kita mengalami keberhasilan.
Kalau gagal, kita mengalami kegagalan.
Dua-duanya tetap pengalaman.
Dua-duanya tetap kehidupan.
Maka pertanyaan terpenting bukan:
“Bagaimana caranya supaya pasti berhasil?”
Tetapi:
“Apakah saya cukup berani untuk mengalami kehidupan?”
Karena hidup bukan tempat mencari kepastian mutlak.
Hidup adalah tempat mengalami berbagai kemungkinan.
Dan mungkin inilah kenapa sebagian orang yang terlalu mengejar keberhasilan justru hidupnya penuh tekanan.
Karena ia hanya mau menerima satu warna kehidupan dan menolak warna lainnya.
Padahal bumi tidak bekerja seperti itu.
Bumi adalah tempat seluruh rasa bercampur.
Maka semakin seseorang bisa menerima kemungkinan berhasil dan kemungkinan gagal secara bersamaan, semakin damai hidupnya.
Ia tidak terlalu mabuk ketika berhasil.
Ia tidak terlalu hancur ketika gagal.
Karena keduanya hanyalah pengalaman yang sedang lewat.
Beberapa cara supaya kita tetap bergerak tanpa terlalu terobsesi pada hasil:
Fokus pada pengalaman, bukan hanya pencapaian.
Kadang proses yang kita alami jauh lebih berharga daripada hasil akhirnya.
Berani gagal kecil-kecil.
Semakin sering mencoba, mental akan semakin kuat menghadapi kemungkinan buruk.
Jangan menunggu kepastian baru bergerak.
Karena kepastian mutlak hampir tidak pernah ada.
Latih diri menerima dua kemungkinan sekaligus.
Berhasil bisa terjadi. Gagal juga bisa terjadi. Tetap bergerak.
Jangan mengukur hidup hanya dari hasil akhir.
Karena orang yang gagal pun sebenarnya sedang menjalani kehidupan secara utuh.
Kurangi keterikatan pada citra diri.
Takut gagal sering kali bukan takut gagal, tetapi takut terlihat gagal.
Nikmati proses mengalami.
Kadang pengalaman pahit justru membentuk kedewasaan terbesar.
Jangan terlalu mengejar rasa nyaman.
Karena pertumbuhan sering lahir dari situasi yang tidak nyaman.
Tetap action meski hati belum yakin sepenuhnya.
Keberanian bukan berarti tidak takut, tetapi tetap bergerak meski takut ada.
Ingat bahwa hidup adalah perjalanan pengalaman.
Bukan perlombaan siapa paling sempurna.
Pada akhirnya, mungkin manusia memang tidak turun ke bumi untuk memastikan satu hasil tertentu.
Tetapi untuk mengalami seluruh kemungkinan yang ada di dalam kehidupan.
Dan selama kita masih berani bergerak, mencoba, jatuh, bangkit, gagal, berhasil, menangis, tertawa, mencintai, kehilangan, lalu mencoba lagi, berarti kita sedang menjalani kehidupan sebagaimana mestinya.
0 Response to "KITA TURUN KE BUMI UNTUK MENGALAMI, BUKAN UNTUK MEMASTIKAN HASIL"
Post a Comment