MENJADI SAKSI: KETIKA ANDA TIDAK ADA
Sadar itu sesungguhnya bukan tentang menjadi seseorang yang lebih hebat, lebih sakti, lebih suci, atau lebih spiritual. Sadar justru adalah ketika perlahan-lahan "aku" yang selama ini merasa menjadi pusat kehidupan mulai menghilang. Yang tersisa hanyalah kesadaran yang melihat. Kesadaran yang menyaksikan. Kesadaran yang tidak lagi sibuk menjadi pelaku. Kita datang ke dunia ini bukan untuk mengendalikan seluruh cerita, melainkan untuk menyaksikan bagaimana kehidupan mengalir sesuai hukumnya sendiri. Selama kita masih merasa menjadi tokoh utama yang harus mengatur segalanya, selama itu pula kita masih menjadi pemain. Tetapi ketika kita berhenti menjadi pemain dan kembali duduk sebagai penonton, saat itulah kita mulai mengenal apa yang disebut menjadi Saksi.
Bayangkan dirimu sedang duduk di sebuah bioskop yang sangat besar. Film diputar di layar. Di dalam film itu ada adegan sedih, ada pertengkaran, ada perang, ada cinta, ada kehilangan, ada kelahiran, ada kematian, ada tawa, ada air mata. Selama kamu duduk di kursi penonton, kamu tahu semuanya hanyalah tontonan. Kamu mungkin melihatnya dengan jelas, tetapi kamu tidak ikut terbakar ketika gedung di dalam film terbakar. Kamu tidak ikut terluka ketika tokohnya terluka. Kamu hanya menyaksikan. Tetapi begitu kamu melompat masuk ke layar, kamu lupa bahwa itu hanyalah film. Kamu mulai menangis, marah, membenci, takut, cemas, iri, dendam, dan ingin mengubah alur ceritanya. Pada saat itulah kamu berubah dari penonton menjadi pemain.
Begitulah kehidupan bekerja. Selama kita hanya menyaksikan, kehidupan tetap mengalir. Tetapi begitu muncul "aku" yang berkata, "Ini tidak boleh terjadi kepadaku," "Aku harus membalas," "Aku harus mempertahankan harga diriku," "Aku harus mendapatkan ini," maka saat itu juga kita telah naik ke atas panggung. Kita bukan lagi penonton. Kita telah menjadi pelaku. Dari sanalah lahir reaksi. Dari reaksi lahirlah keterikatan. Dari keterikatan lahirlah penderitaan. Dalam banyak ajaran spiritual, inilah yang disebut sebagai awal dari karma, yaitu ketika tindakan, ucapan, dan niat melekat pada identitas "aku" yang merasa menjadi pelaku utama.
Menjadi Saksi berarti "aku" itu tidak lagi menjadi pusat. Bukan berarti tubuh menghilang, bukan berarti kita mati secara fisik, melainkan identitas yang terus-menerus mengklaim, menghakimi, dan menguasai mulai memudar. Tubuh tetap berjalan. Mata tetap melihat. Telinga tetap mendengar. Mulut tetap berbicara ketika memang perlu berbicara. Tangan tetap bekerja ketika memang perlu bekerja. Tetapi di dalam semua itu tidak ada lagi beban bahwa "akulah pelakunya." Yang ada hanyalah kehidupan yang sedang berlangsung sebagaimana adanya.
Bayangkan suatu hari terjadi keributan besar di sebuah pasar. Orang-orang saling berteriak. Ada yang marah. Ada yang mendorong. Ada yang saling menyalahkan. Tetapi pada saat yang sama ternyata kamu sedang berada ratusan kilometer dari pasar itu. Karena kamu tidak berada di sana, kamu tidak ikut berteriak. Kamu tidak ikut marah. Kamu tidak ikut memukul. Kamu tidak ikut dipukul. Kamu tidak ikut menanggung akibat dari keributan itu. Bukan karena kamu berusaha menahan diri, melainkan karena kamu memang tidak ada di dalam peristiwa tersebut. Keributan itu berjalan dengan hukumnya sendiri tanpa membutuhkan kehadiranmu.
Keadaan menjadi Saksi kurang lebih seperti itu. Tubuhmu mungkin sedang berada di tengah keramaian. Tubuhmu mungkin sedang berada di tengah keluarga, kantor, jalan raya, atau bahkan di tengah orang-orang yang sedang bertengkar. Namun "aku" yang biasanya sibuk ikut campur sudah tidak ada. Yang ada hanyalah kesadaran yang melihat semuanya terjadi. Fenomena datang. Fenomena pergi. Pikiran datang. Pikiran pergi. Emosi datang. Emosi pergi. Tidak ada satu pun yang perlu ditahan, tidak ada satu pun yang perlu dikejar, tidak ada satu pun yang perlu dilawan. Semua hanya lewat seperti awan yang melintas di langit.
Contoh lain yang sangat dekat dengan kehidupan kita adalah ketika tidur. Saat seseorang benar-benar tertidur lelap, dunia tetap berjalan. Mobil tetap lewat di jalan. Orang tetap berbicara. Matahari tetap terbit. Burung tetap berkicau. Hujan tetap turun. Tetapi orang yang sedang tidur tidak memberikan komentar terhadap semua itu. Ia tidak sedang menilai. Ia tidak sedang membenci. Ia tidak sedang iri. Ia tidak sedang menyusun rencana balas dendam. Ia tidak sedang mempertahankan harga dirinya. Seluruh aktivitas batin yang biasanya sangat ramai menjadi sunyi. Dunia tetap ada, tetapi "aku" yang sibuk mengomentari dunia seolah-olah sedang berhenti bekerja.
Bayangkan telepon genggam yang masuk ke mode tidur. Perangkatnya masih ada. Sistem dasarnya masih hidup. Tetapi layar tidak sibuk menampilkan berbagai aktivitas. Demikian pula kesadaran seorang Saksi. Bedanya, tidur biasa berlangsung tanpa kesadaran, sedangkan menjadi Saksi adalah tidur terhadap ego tetapi tetap sadar sepenuhnya. Tubuh tetap terjaga. Mata tetap terbuka. Telinga tetap mendengar. Pikiran mungkin masih muncul sesekali, tetapi tidak lagi dipercaya begitu saja. Emosi mungkin datang, tetapi tidak lagi langsung diikuti. Segalanya muncul lalu menghilang di hadapan kesadaran yang diam.
Inilah yang oleh sebagian tradisi Jawa diibaratkan sebagai mati sajroning urip, mati di dalam hidup. Yang mati bukan tubuhnya. Yang mati adalah keakuan yang terus-menerus ingin menguasai kehidupan. Yang mati adalah ego yang selalu merasa harus menang. Yang mati adalah identitas yang selalu ingin dipuji, dibenarkan, dimenangkan, dan dipentingkan. Tubuh tetap hidup, tetapi ego yang biasanya begitu bising menjadi diam. Kehidupan tetap berjalan, tetapi di dalamnya ada keheningan yang tidak terganggu oleh naik turunnya peristiwa.
Ketika seseorang hidup seperti ini, ia tidak menjadi orang yang pasif ataupun tidak peduli. Ia tetap melakukan apa yang perlu dilakukan, tetapi tindakannya tidak lagi lahir dari reaksi yang membabi buta. Jika ada orang meminta pertolongan, ia menolong karena memang perlu ditolong, bukan agar dipuji sebagai orang baik. Jika ada kesalahan yang perlu diperbaiki, ia memperbaikinya tanpa kebencian. Jika ada pekerjaan yang harus diselesaikan, ia menyelesaikannya tanpa menjadikan pekerjaannya sebagai identitas dirinya. Semua mengalir sebagaimana mestinya.
Semakin kuat rasa "aku", semakin mudah seseorang terluka. Sedikit dihina langsung marah. Sedikit dipuji langsung melambung. Sedikit kehilangan langsung putus asa. Sedikit mendapatkan langsung mabuk kebanggaan. Semua itu terjadi karena ada seseorang di dalam diri yang terus-menerus merasa memiliki dan menguasai. Tetapi ketika "aku" mulai memudar, pujian dan hinaan hanya menjadi suara yang lewat. Untung dan rugi menjadi bagian dari arus kehidupan. Datang dan pergi menjadi sesuatu yang alami. Tidak ada lagi pusat yang harus dipertahankan.
Dalam banyak ajaran meditasi, latihan utamanya bukan menghilangkan pikiran, melainkan berhenti menjadi pikiran. Pikiran boleh muncul, tetapi kita tidak perlu menjadi pikiran itu. Emosi boleh muncul, tetapi kita tidak perlu menjadi emosi itu. Tubuh boleh merasakan sakit, tetapi kita tidak harus membangun penderitaan tambahan melalui penolakan yang terus-menerus. Kesadaran hanya menyaksikan semuanya sebagaimana adanya.
Ketika posisi Saksi benar-benar stabil, hidup menjadi sangat ringan. Bukan karena masalah hilang, tetapi karena tidak ada lagi "aku" yang terus memperbesar setiap masalah. Kehidupan tetap bergerak. Tubuh tetap menua. Orang tetap datang dan pergi. Rezeki tetap naik turun. Dunia tetap berubah. Namun di balik seluruh perubahan itu ada kesadaran yang tidak berubah, yang hanya melihat semuanya seperti langit yang tetap luas meskipun awan terus berganti.
Mungkin inilah makna terdalam menjadi Saksi. Bukan melarikan diri dari kehidupan, bukan mematikan perasaan, bukan menolak dunia, melainkan hadir sepenuhnya tanpa diperbudak oleh reaksi. Hidup sepenuhnya tanpa harus menggenggam. Bertindak ketika memang perlu bertindak, berhenti ketika memang perlu berhenti, dan membiarkan kehidupan mengalir sesuai hukumnya. Ketika "aku" tidak lagi menjadi pusat dari setiap pengalaman, yang tersisa hanyalah kesadaran yang jernih. Kesadaran yang diam. Kesadaran yang menyaksikan. Kesadaran yang selalu ada sebelum setiap pikiran muncul dan tetap ada setelah setiap pikiran menghilang.
0 Response to "MENJADI SAKSI: KETIKA ANDA TIDAK ADA"
Post a Comment