**KENAPA HIDUP HARUS GELAP DAN TERANG? APA TUJUANNYA KITA DITARUH DI TENGAH?**

**KENAPA HIDUP HARUS GELAP DAN TERANG? APA TUJUANNYA KITA DITARUH DI TENGAH?**

Kita ini hidup di sebuah sekolah. Sekolah jiwa.
Dan di sekolah ini, kita tidak akan diberi satu rasa saja.

Kalau kamu dapat enaknya dulu, maka sedihnya akan datang belakangan.
Karena kita memang harus mengalami keduanya sebagai satu paket.

Mengalami gelap dan terang.
Habis gelap, diberi terang.
Atau sebaliknya, diberi terang dulu… lalu terang itu diambil, muncullah gelap.

Itu bukan untuk menghukum.
Itu untuk membuat kita **bangun**… dan melampaui keduanya.

Masalahnya, manusia selalu condong.
Kalau senang, ingin ditahan.
Kalau sedih, ingin ditolak.

Padahal keduanya itu jebakan kalau kita tidak sadar.

Itulah yang digambarkan sebagai jembatan yang sangat licin—*sirotol mustaqim*.
Kita bisa tergelincir ke kanan atau ke kiri.

Kanan dan kiri itu apa?
Penderitaan dan kesenangan.

Kalau kita condong ke kesenangan, kita terlena.
Kalau kita tenggelam di penderitaan, kita hancur.

Tapi kalau kita bisa berjalan di tengahnya… tidak terjebak kanan dan tidak jatuh ke kiri…
di situlah kita sampai pada “surga” yang sebenarnya.

Surga bukan sekadar tempat yang menyenangkan.
Dan neraka bukan sekadar tempat yang menyiksa.

Surga yang sejati adalah **keseimbangan**.
Keadaan di mana kita tidak lagi dikendalikan oleh gelap atau terang.

Di situlah kita mulai “berjumpa”.

Jembatan itu licin karena pikiran kita selalu memilih.
Menolak yang tidak enak, mengejar yang enak.
Dan selama kita masih memilih seperti itu, kita akan terus tergelincir.

Makanya dalam banyak ajaran, termasuk Buddhisme, diajarkan jalan tengah.
Tidak ke kiri, tidak ke kanan.

Ada kisah sederhana:
Sang Buddha melihat seorang pemetik gitar.

Kalau senarnya terlalu kencang—putus.
Kalau terlalu kendor—tidak berbunyi.

Tapi saat ditarik di titik tengah… dia berbunyi indah.

Itulah hidup.

Kalau kamu terlalu “kencang” di spiritual—menolak dunia—kamu tidak seimbang.
Kalau kamu terlalu tenggelam di dunia—menolak makna—kamu juga tidak seimbang.

Keduanya tetap jatuh.

Maka yang dibutuhkan adalah berjalan di tengah.
Memegang dunia… tapi tidak terikat.
Memahami spiritual… tapi tidak lari dari kehidupan.

Bukan kanan.
Bukan kiri.
Tapi di tengah.

Orang yang bisa memahami dua sisi ini—gelap dan terang, senang dan sedih—tanpa terjebak di salah satunya, dia naik level.

Dia tidak lagi dikendalikan keadaan.
Dia mulai sadar.

Dan di titik tengah itulah… kita mulai menyentuh sesuatu yang tidak bisa didefinisikan.

Yang tidak bisa disebut baik atau buruk.
Tidak laki-laki, tidak perempuan.
Tidak gelap, tidak terang.
Bahkan bukan sekadar ada atau tiada.

Itulah yang disebut Tuhan.

Karena begitu kamu mencoba mendefinisikan-Nya dengan satu sisi… kamu sudah jatuh ke kiri atau ke kanan.
Oleh karena itu perdebatan ateis dan teis itu tidak pernah selesai karena mereka berada di kanan dan kiri padahal Tuhan tidak di sana. Tuhan bahkan tidak bisa didefinisikan secara sepihak dengan ada atau Tiada. karena dia itu tak terdefinisikan .jadi kamu anggap ada ya tiada kamu anggap tiada ya ada karena nggak bisa kamu pegang dengan kanan atau kiri. 

Makanya, bukan berarti kita harus jadi sangat spiritual dan meninggalkan dunia.
Itu condong ke satu sisi.

Dan bukan berarti kita harus jadi sangat duniawi dan menolak makna.
Itu juga condong ke sisi lain.

Yang benar adalah berjalan di tengah.

Tidak mendewakan dunia.
Tidak juga lari sepenuhnya ke akhirat.

Tapi sadar… berada di persimpangan keduanya.
Hidup di dunia, tapi tidak diperbudak.
Mengerti spiritual, tapi tidak melarikan diri.

Di situlah keseimbangan.
Di situlah titik tengah.
Dan di situlah… pintu untuk benar-benar **bangun**.

0 Response to "**KENAPA HIDUP HARUS GELAP DAN TERANG? APA TUJUANNYA KITA DITARUH DI TENGAH?**"

Post a Comment