manusia sering kali hidup di dalam dunia yang dibangun oleh nama, label, sebutan, dan identitas. sejak kecil kita diajarkan untuk mengenali segala sesuatu melalui nama. kita diberi nama, orang tua diberi nama, pekerjaan diberi nama, agama diberi nama, kegiatan diberi nama, bahkan perasaan dan pengalaman batin pun diberi nama. pada awalnya nama hanyalah alat untuk memudahkan komunikasi, namun tanpa disadari nama kemudian berubah menjadi tembok-tembok pemisah yang membelah kehidupan menjadi bagian-bagian yang terpisah satu sama lain. dari sinilah muncul cara pandang yang membuat manusia merasa bahwa ada hal yang spiritual dan ada hal yang tidak spiritual, ada aktivitas yang suci dan ada aktivitas yang biasa, ada kegiatan yang dianggap dekat dengan tuhan dan ada kegiatan yang dianggap jauh dari tuhan.
ketika seseorang mengikuti meditasi, melakukan tafakur, berzikir, berdoa, membaca kitab suci, mengikuti kajian spiritual, atau melakukan praktik-praktik kesadaran lainnya, ia sering merasa bahwa dirinya sedang berada di wilayah spiritual. ia merasa sedang melakukan sesuatu yang luhur, sakral, dan bernilai tinggi. namun ketika orang yang sama harus bekerja di sawah, berdagang di pasar, mengemas barang dagangan, melayani pelanggan, mengurus laporan keuangan, memperbaiki kendaraan, membersihkan rumah, mencuci piring, atau melakukan pekerjaan sehari-hari lainnya, tiba-tiba semua itu dianggap sebagai wilayah duniawi yang tidak memiliki nilai spiritual yang sama. padahal yang berubah hanyalah nama dan label yang diberikan oleh pikiran.
pikiran menciptakan kategori-kategori. pikiran mengatakan bahwa meditasi adalah spiritual. pikiran mengatakan bahwa berjualan adalah ekonomi. pikiran mengatakan bahwa salat adalah ibadah. pikiran mengatakan bahwa bekerja adalah urusan dunia. pikiran mengatakan bahwa membaca kitab adalah aktivitas suci. pikiran mengatakan bahwa menjemur pakaian hanyalah pekerjaan rumah tangga biasa. semakin lama seseorang mempercayai pembagian ini, semakin besar pula jarak yang ia rasakan antara dirinya dengan kehidupan yang sedang dijalaninya.
akibatnya banyak orang merasa damai ketika berada di ruang meditasi tetapi kehilangan kedamaian ketika berada di tempat kerja. banyak orang merasa dekat dengan tuhan ketika sedang berdoa tetapi merasa jauh dari tuhan ketika sedang berjualan. banyak orang merasa penuh kesadaran ketika mengikuti retret spiritual tetapi kehilangan kesadaran ketika sedang menghadapi pelanggan, menghadapi anak-anaknya, menghadapi pasangan hidupnya, atau menghadapi tantangan ekonomi sehari-hari. bukan karena kesadaran itu hilang, melainkan karena pikiran telah menciptakan batas-batas yang sebenarnya tidak pernah ada.
coba perhatikan bagaimana identitas bekerja dalam kehidupan sehari-hari. seseorang yang menganggap dirinya seorang spiritualis akan lebih tertarik membahas meditasi, kesadaran, energi, manifestasi, dan berbagai topik yang dianggap spiritual. ketika ia melakukan aktivitas yang sesuai dengan identitas tersebut, ia merasa hidup, bersemangat, dan penuh antusiasme. namun ketika ia harus melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan identitas spiritual yang dibangunnya, misalnya berdagang, mengurus administrasi, belajar pemasaran, atau mengelola bisnis, ia merasa bosan, berat, bahkan terkadang merasa bersalah. seolah-olah aktivitas tersebut lebih rendah dibandingkan kegiatan spiritual yang selama ini ia banggakan.
hal yang sama terjadi pada identitas-identitas lainnya. seorang akademisi merasa nyaman ketika berbicara tentang ilmu pengetahuan tetapi merasa asing ketika berbicara tentang kesadaran. seorang pebisnis merasa hidup ketika berbicara tentang keuntungan dan peluang pasar tetapi mungkin menganggap meditasi sebagai sesuatu yang tidak penting. seorang filsuf menikmati pembahasan-pembahasan mendalam tentang makna kehidupan tetapi mungkin mengabaikan aktivitas sederhana yang sebenarnya penuh kebijaksanaan. seorang pekerja seni hidup dalam dunia kreativitasnya sendiri. seorang petani hidup dalam dunia pertaniannya sendiri. seorang pedagang hidup dalam dunia perdagangannya sendiri. masing-masing terjebak dalam identitas yang diciptakan oleh pikirannya.
semakin kuat identitas itu dipegang, semakin sempit cara pandang seseorang terhadap kehidupan. ia mulai menyukai sebagian pengalaman dan menolak sebagian pengalaman lainnya. ia mulai menganggap ada aktivitas yang layak dicintai dan ada aktivitas yang hanya dijalani karena terpaksa. ia mulai membangun hierarki, membuat tingkatan, membuat kelas-kelas yang tidak pernah benar-benar ada di dalam kenyataan. padahal kehidupan sendiri tidak pernah melakukan pemisahan seperti itu.
matahari tidak pernah memilih hanya menyinari orang yang sedang berdoa. angin tidak pernah memilih hanya bertiup kepada orang yang sedang bermeditasi. bumi tidak pernah memilih hanya menopang orang yang sedang melakukan ritual keagamaan. kehidupan menerima semuanya secara utuh. kehidupan tidak membagi manusia menjadi kelompok spiritual dan kelompok tidak spiritual. kehidupan hanya mengalir sebagaimana adanya.
jika kita mau melihat lebih dalam, seluruh keberadaan ini sesungguhnya adalah satu kesatuan yang utuh. segala sesuatu berasal dari sumber yang sama. segala sesuatu muncul dari keberadaan yang sama. segala sesuatu hidup di dalam ruang kesadaran yang sama. yang membedakan hanyalah bentuknya, fungsinya, warnanya, dan namanya. tetapi esensinya tetap satu.
karena itu sesungguhnya tidak ada aktivitas yang lebih spiritual daripada aktivitas lainnya. meditasi bukan lebih spiritual daripada berjualan. berjualan bukan lebih rendah daripada meditasi. salat bukan lebih dekat kepada tuhan dibandingkan mencangkul sawah. mencangkul sawah bukan lebih rendah daripada salat. membaca kitab suci bukan lebih mulia daripada membersihkan rumah. membersihkan rumah bukan lebih rendah daripada membaca kitab suci. semuanya adalah ekspresi kehidupan yang sedang bergerak dalam bentuk yang berbeda-beda.
ketika seseorang mulai memahami hal ini, terjadi perubahan besar di dalam batinnya. ia mulai berhenti mengejar pengalaman-pengalaman tertentu yang dianggap spiritual dan berhenti menghindari pengalaman-pengalaman tertentu yang dianggap duniawi. ia mulai melihat bahwa setiap momen adalah pintu menuju kesadaran. setiap aktivitas adalah kesempatan untuk hadir. setiap peristiwa adalah ruang untuk mengenali dirinya sendiri.
saat itulah memancing menjadi aktivitas spiritual. bukan karena ikan yang ditangkap memiliki makna mistis, melainkan karena seseorang hadir sepenuhnya di dalam aktivitas tersebut. ia merasakan angin yang menyentuh kulitnya, mendengar suara air, memperhatikan gerakan tubuhnya, dan menyadari keberadaannya sendiri di tengah pengalaman itu. tidak ada perbedaan antara kesadaran yang hadir ketika bermeditasi dan kesadaran yang hadir ketika memancing.
ngopi menjadi aktivitas spiritual. bukan karena kopi memiliki kekuatan gaib, tetapi karena seseorang benar-benar hadir ketika meminumnya. ia merasakan aroma kopi, merasakan hangatnya cangkir, merasakan setiap tegukan tanpa tergesa-gesa. ia tidak sedang melarikan diri ke masa lalu atau masa depan. ia hadir di sini dan sekarang. di situlah kesakralannya muncul.
berjualan menjadi aktivitas spiritual. bukan karena barang yang dijual memiliki nilai religius tertentu, tetapi karena seseorang hadir sepenuhnya dalam prosesnya. ia melayani pembeli dengan perhatian. ia berbicara dengan kesadaran. ia menjalankan transaksi dengan kejujuran. ia memperhatikan setiap proses yang sedang berlangsung. ia tidak hanya mengejar uang, melainkan menggunakan aktivitas itu sebagai sarana untuk mengenali dirinya sendiri.
bahkan ketika seseorang sedang mengurus administrasi, menghitung stok barang, membungkus paket, membersihkan toko, mengantar pesanan, atau melakukan pekerjaan yang selama ini dianggap membosankan, semua itu dapat menjadi aktivitas spiritual ketika dilakukan dengan kesadaran penuh. bukan aktivitasnya yang menentukan tingkat spiritualitasnya, melainkan kualitas kehadiran yang dibawa ke dalam aktivitas tersebut.
demikian pula ketika seseorang sedang berhubungan dengan pasangan hidupnya. banyak orang memisahkan wilayah ini dari spiritualitas karena telah memberi label tertentu terhadapnya. padahal jika dilihat secara mendalam, tubuh adalah bagian dari kehidupan, cinta adalah bagian dari kehidupan, kedekatan adalah bagian dari kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah manifestasi dari keberadaan yang sama. ketika dilakukan dengan kesadaran, penghormatan, kehadiran, dan ketulusan, pengalaman itu pun menjadi bagian dari perjalanan spiritual yang sama.
masalah terbesar manusia bukanlah aktivitas yang dijalani, melainkan cara pandang yang memisahkan aktivitas tersebut. pikiran terus menciptakan kotak-kotak. pikiran terus menciptakan kategori. pikiran terus memberi nama dan kemudian mempercayai nama itu sebagai kenyataan mutlak. padahal nama hanyalah simbol. label hanyalah kesepakatan. identitas hanyalah alat bantu. ketika alat bantu dianggap sebagai kenyataan sejati, maka konflik mulai muncul.
konflik itu terlihat ketika seseorang merasa lebih suci daripada orang lain karena aktivitas yang dijalaninya. konflik itu terlihat ketika seseorang merasa hidupnya kurang bermakna karena pekerjaannya tidak dianggap spiritual. konflik itu terlihat ketika seseorang terus mencari pengalaman-pengalaman khusus dan mengabaikan keajaiban sederhana yang sedang berlangsung setiap hari. konflik itu terlihat ketika seseorang merasa harus berada di tempat tertentu untuk menemukan tuhan, padahal keberadaan yang ia cari tidak pernah meninggalkannya sedetik pun.
kesadaran yang matang tidak lagi memilih-milih kehidupan. ia tidak lagi berkata bahwa ini suci dan itu tidak suci. ia tidak lagi berkata bahwa ini spiritual dan itu duniawi. ia tidak lagi berkata bahwa ini lebih tinggi dan itu lebih rendah. ia mulai melihat kehidupan sebagai satu tarian besar yang terdiri dari berbagai bentuk dan warna yang berbeda namun berasal dari sumber yang sama.
ketika pemahaman ini benar-benar meresap, seseorang akan menjalani hidup dengan cara yang berbeda. saat ia bermeditasi, ia bermeditasi sepenuh hati. saat ia bekerja, ia bekerja sepenuh hati. saat ia berjualan, ia berjualan sepenuh hati. saat ia makan, ia makan sepenuh hati. saat ia berjalan, ia berjalan sepenuh hati. saat ia berbicara, ia berbicara sepenuh hati. tidak ada aktivitas yang dianggap sekadar selingan. tidak ada aktivitas yang dianggap kurang penting. tidak ada aktivitas yang dianggap hanya alat untuk mencapai aktivitas lain yang lebih mulia.
setiap momen menjadi sakral. setiap napas menjadi sakral. setiap perjumpaan menjadi sakral. setiap pekerjaan menjadi sakral. setiap langkah menjadi sakral. bukan karena kita memaksakan kesakralan itu, melainkan karena kita akhirnya melihat apa yang selama ini tersembunyi di balik lapisan nama, label, dan identitas.
pada akhirnya perjalanan spiritual bukanlah perjalanan menuju sesuatu yang berada jauh di luar sana. perjalanan spiritual adalah perjalanan menghancurkan batas-batas yang diciptakan oleh pikiran. perjalanan spiritual adalah perjalanan melihat kembali kesatuan yang selama ini tertutup oleh label-label. perjalanan spiritual adalah kemampuan untuk menemukan yang ilahi di dalam segala hal, bukan hanya di dalam hal-hal yang kita sebut spiritual.
ketika seseorang mampu melihat dengan cara ini, maka tidak ada lagi perbedaan antara ruang meditasi dan ruang kerja, antara tempat ibadah dan pasar, antara doa dan jualan, antara tafakur dan mengantar barang, antara membaca kitab dan menyapu lantai. semuanya menjadi jalan yang sama. semuanya menjadi gerbang yang sama. semuanya menjadi kesempatan yang sama untuk mengenali diri, mengenali kehidupan, dan mengenali keberadaan yang selama ini hadir di balik seluruh bentuk.
maka saat anda sedang berjualan, berjualanlah dengan penuh kesadaran karena itu adalah aktivitas spiritual. saat anda sedang memancing, memancinglah dengan penuh kesadaran karena itu adalah aktivitas spiritual. saat anda sedang minum kopi, minumlah dengan penuh kesadaran karena itu adalah aktivitas spiritual. saat anda sedang bermeditasi, bermeditasilah dengan penuh kesadaran karena itu adalah aktivitas spiritual. bukan karena aktivitas tersebut memiliki label spiritual, melainkan karena seluruh kehidupan pada hakikatnya adalah spiritual itu sendiri. yang perlu diubah bukanlah aktivitasnya, melainkan cara kita memandangnya. ketika pemisahan runtuh, kehidupan kembali menjadi utuh. ketika identitas runtuh, kesatuan mulai terlihat. dan ketika kesatuan mulai terlihat, seluruh kehidupan berubah menjadi perjumpaan yang terus-menerus dengan diri sejati yang selama ini hadir di setiap momen, di setiap aktivitas, dan di setiap napas yang sedang berlangsung saat ini.
0 Response to "MANUSIA SERING TERJEBAK KEPADA IDENTITAS"
Post a Comment