KETIKA TAKDIR TERUS KEMBALI MESKI KITA MELAWANNYA

KETIKA TAKDIR TERUS KEMBALI MESKI KITA MELAWANNYA

The Time Machine sebenarnya bukan hanya film tentang mesin waktu. Film itu adalah gambaran tentang kehidupan manusia sendiri. Tentang bagaimana manusia terus berusaha melawan kenyataan karena merasa ada kehidupan lain yang lebih baik daripada yang sedang diberikan saat ini. Tentang manusia yang mengira penderitaan terjadi karena takdir salah, lalu sibuk mencoba memperbaikinya, padahal semakin dilawan justru semakin banyak celah penderitaan baru muncul dari arah lain.

Kisahnya dimulai dari seorang ilmuwan bernama Alexander Hartdegen yang hidup sederhana tetapi sangat mencintai seorang wanita bernama Emma. Mereka hidup bahagia. Tidak mewah. Tidak luar biasa. Tetapi hangat. Hingga suatu malam Alexander akhirnya memberanikan diri melamar Emma. Di titik itu hidup terasa sempurna. Semua yang ia impikan seperti akan benar-benar dimulai.

Tetapi tepat beberapa saat setelah Emma menerima lamarannya, datang seorang perampok. Situasi menjadi kacau. Alexander mencoba melindungi Emma, tetapi semuanya terlambat. Emma tertembak dan meninggal di pelukannya sendiri.

Di titik itu Alexander hancur.

Ia tidak bisa menerima kenyataan. Baginya hidup telah salah. Takdir dianggap kejam. Ia merasa semua itu tidak seharusnya terjadi. Dari situlah ia mulai terobsesi mengubah masa lalu. Ia menghabiskan bertahun-tahun hidupnya membuat mesin waktu demi satu tujuan: menyelamatkan Emma.

Dan akhirnya mesin waktu itu berhasil dibuat.

Ia kembali ke hari kematian Emma. Kali ini ia berhasil mencegah perampokan. Emma selamat. Mereka tertawa lagi. Mereka berjalan bersama lagi. Alexander merasa dirinya berhasil mengalahkan takdir.

Tetapi beberapa saat kemudian, saat mereka sedang bersama, tiba-tiba kereta kuda mengalami kecelakaan dan Emma meninggal dengan cara lain.

Alexander shock.

Ia mencoba lagi.

Ia kembali lagi ke masa lalu. Kali ini ia lebih hati-hati. Ia menghindari semua kemungkinan bahaya. Tetapi lagi-lagi Emma tetap meninggal. Kadang karena kecelakaan lain. Kadang karena kejadian yang tidak terduga. Seolah kehidupan terus mencari jalan berbeda untuk membawa hasil yang sama.

Di situlah inti terdalam film ini muncul.

Bahwa manusia memang diberi freewill. Manusia boleh memilih. Boleh melawan. Boleh mencoba mengubah arah hidupnya. Tetapi ada inti-inti tertentu dalam kehidupan yang tetap akan kembali pada relnya sendiri. Semesta seperti memiliki keseimbangan yang tidak bisa dilanggar sepenuhnya.

Dan anehnya, semakin manusia memaksa melawan, sering kali semesta justru menciptakan kejadian-kejadian baru yang lebih rumit dan lebih menyakitkan.

Film itu sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan nyata.

Dalam hidup sehari-hari manusia sering merasa, “kalau saja aku pindah tempat, hidupku pasti lebih bahagia.” Lalu setelah pindah ternyata muncul masalah baru. Lalu merasa lagi, “kalau saja aku punya pasangan yang lain.” Setelah mendapatkan yang lain ternyata muncul luka yang sama dengan wajah berbeda. “Kalau saja aku punya pekerjaan lain.” Saat pekerjaan baru datang ternyata tekanan lain muncul lagi. “Kalau saja aku kaya.” Saat kaya ternyata muncul ketakutan baru, kehilangan baru, kehampaan baru.

Pola itu terus berulang.

Karena manusia sering mengira masalahnya ada di luar dirinya, padahal inti takdir dan pelajarannya tetap mengikuti ke mana pun ia pergi.

Yang berubah hanya bentuk kejadiannya.

Sama seperti Emma dalam film itu. Cara kematiannya berubah-ubah, tetapi inti peristiwanya tetap sama. Semesta seperti berkata: “ini bukan tentang bagaimana caranya. Ini tentang apa yang harus diterima.”

Dan dalam kehidupan nyata pun sering begitu.

Kadang kita sibuk sekali mengubah keadaan karena merasa ada yang salah dengan hidup saat ini. Kita memaksa membuka jalan lain. Memaksa mencari kenyamanan lain. Memaksa mengejar kehidupan yang terlihat lebih indah. Tetapi di balik itu ternyata muncul harga-harga yang jauh lebih besar yang sebelumnya tidak kita lihat.

Kita berhasil mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, tetapi kehilangan ketenangan. Mendapat pasangan baru tetapi kehilangan kedamaian. Mendapat uang lebih tetapi kehilangan kesehatan. Mendapat pencapaian tetapi kehilangan diri sendiri.

Seolah semesta memang tetap menjaga keseimbangannya.

Bukan berarti manusia tidak boleh memilih. Bukan berarti hidup harus pasrah total tanpa tindakan. Tetapi ada perbedaan besar antara tindakan yang lahir dari penerimaan dan tindakan yang lahir dari penolakan terhadap hidup.

Kalau tindakan lahir dari penolakan, biasanya manusia bergerak karena merasa saat ini salah. Karena merasa hidup sekarang kurang. Karena merasa takdirnya tidak sesuai keinginan ego. Dan dari situlah manusia mulai menciptakan perang panjang melawan hidupnya sendiri.

Padahal bisa jadi apa yang sudah diberikan sebenarnya sudah tepat.

Hanya pikiran saja yang terus merasa kurang.

Pikiran selalu menciptakan ilusi tentang masa depan. Selalu berkata bahwa kebahagiaan ada di tempat lain. Padahal ketika tempat lain itu didapatkan, pikiran akan menciptakan target baru lagi. Karena memang sifat ego tidak pernah benar-benar puas.

Itulah kenapa banyak orang terus berlari tetapi tidak pernah sampai.

Film itu memperlihatkan satu hal yang sangat dalam: bahwa ada titik di mana manusia akhirnya lelah melawan dan mulai sadar bahwa hidup bukan untuk dikendalikan sepenuhnya, tetapi untuk diterima dan dijalani dengan sadar.

Kadang penderitaan terbesar bukan berasal dari takdir, tetapi dari penolakan kita terhadap takdir.

Karena saat kita tidak menerima satu kejadian, kita mulai menciptakan seribu usaha untuk mengubahnya. Dan dari seribu usaha itu justru muncul seribu kerumitan baru yang sebelumnya tidak ada.

Sebenarnya hidup sudah memiliki jalurnya sendiri.

Kita hanya terlalu sibuk memikirkan rel lain.

Dan lucunya, setelah berputar jauh, setelah mencoba banyak hal, setelah memaksa banyak keadaan, manusia sering kembali ke titik awal sambil berkata: “ternyata yang dulu sudah paling baik.”

Persis seperti ikan yang keluar dari air karena iri melihat burung terbang. Ia mengira kebebasan ada di langit. Padahal hidupnya sendiri ada di air. Semakin jauh ia meninggalkan air, semakin ia menderita. Dan saat kembali ke danau, barulah ia sadar bahwa tempat terbaik ternyata bukan tempat yang ia bayangkan, tetapi tempat yang sejak awal sudah diberikan kepadanya.

Begitulah manusia.

Sering kali kita tidak sedang mencari kebahagiaan.

Kita hanya sedang melarikan diri dari ketidakmampuan menerima kehidupan saat ini.

Dan selama penerimaan itu belum terjadi, maka pola yang sama akan terus muncul dengan bentuk kejadian yang berbeda-beda.

Sampai akhirnya manusia lelah.

Lalu berhenti.

Lalu sadar.

Bahwa mungkin hidup tidak perlu diperjuangkan sekeras itu untuk menjadi sesuatu yang lain.

Karena bisa jadi yang terbaik sudah diberikan sejak awal.

Dan tugas manusia sebenarnya bukan mengubah semuanya.

Tetapi hadir penuh, menerima, dan menikmati apa yang sudah ada.

0 Response to "KETIKA TAKDIR TERUS KEMBALI MESKI KITA MELAWANNYA"

Post a Comment