Jika sesuatu mencapai klimaksnya maka setelahnya akan terjadi titik balik. Klimaks dari kegelapan malam adalah pagi, dan klimaks dari terang adalah datangnya fase gelap. Alam semesta seperti bergerak dalam pola yang sama berulang-ulang. Ketika sesuatu telah mencapai puncaknya, ia tidak memiliki arah lain selain berbalik. Karena itulah untuk mencapai titik balik sering kali sesuatu harus terlebih dahulu mencapai titik klimaksnya.
Kita bisa melihat pola ini dalam kehidupan manusia. Ada ungkapan bahwa mantan orang jahat sering kali menjadi orang baik yang luar biasa. Bahkan kadang ada yang mengatakan lebih baik mantan penjahat daripada mantan kyai. Bukan karena kejahatan itu baik, melainkan karena seseorang yang telah mengalami sisi gelap secara penuh terkadang memahami akibatnya dengan sangat mendalam. Ia telah mencapai titik tertentu dalam pengalaman hidupnya sehingga lahir kejenuhan, kelelahan, dan akhirnya titik balik yang mengubah arah hidupnya.
Karena itu ketika seseorang sangat sulit mengendalikan hawa nafsu, sangat sulit mengendalikan pikiran, sangat sulit mengendalikan ambisi, ada pendekatan tertentu yang tidak selalu berusaha menekan atau memerangi semuanya. Dalam beberapa tradisi, termasuk yang sering dikaitkan dengan Tantra, yang dilakukan justru mengizinkan energi itu berjalan sampai terlihat hakikatnya. Nafsu diamati ketika bergerak. Ambisi diamati ketika mengejar. Pikiran diamati ketika berpikir. Bukan untuk dipelihara tanpa kesadaran, melainkan untuk disadari sampai tuntas sehingga energi tersebut memperlihatkan seluruh wajahnya.
Lihatlah ambisi. Kejarlah ambisi itu sekuat-kuatnya jika memang itu yang sedang terjadi dalam hidupmu. Kejarlah sampai engkau melihat seluruh wajah ambisi. Sampai engkau memahami rasa hausnya, rasa laparnya, rasa tidak pernah puasnya. Sampai suatu hari engkau lelah sendiri. Sampai suatu hari engkau melihat bahwa setelah semua pencapaian didapatkan ternyata masih ada ruang kosong yang tidak dapat diisi oleh pencapaian itu. Pada saat itulah sering kali terjadi titik balik. Bukan karena dipaksa berhenti, melainkan karena energi pengejaran itu telah menghabiskan dirinya sendiri.
Fenomena yang sama dapat dilihat dalam banyak aspek kehidupan. Ketika seseorang bekerja tanpa henti, mengejar sesuatu tanpa kenal lelah, suatu saat tubuh dan pikirannya mencapai batas. Setelah itu muncul fase diam. Fase di mana ia mulai mempertanyakan apa yang sebenarnya ia cari selama ini. Fase di mana keheningan menjadi lebih menarik daripada keramaian. Fase di mana keberadaan lebih menarik daripada pencapaian.
Dalam hubungan intim pun kita dapat melihat pola yang serupa. Setelah aktivitas, gerakan, tenaga, emosi, dan energi mencapai puncaknya, muncullah fase diam. Setelah detak jantung yang kuat, napas yang berat, dan seluruh energi yang bergerak menuju puncak, tiba-tiba hadir relaksasi yang mendalam. Hadir keheningan. Hadir pelepasan. Seolah gerakan yang sangat kuat sedang menuju diam yang sangat dalam. Dari puncak aktivitas lahirlah ketenangan.
Demikian pula dalam pencarian spiritual. Banyak orang mencari guru. Mereka berpindah dari satu guru ke guru lain, dari satu metode ke metode lain, dari satu kitab ke kitab lain. Mereka membaca, belajar, berdiskusi, berdebat, melakukan berbagai praktik. Tidak ada yang salah dengan itu. Namun sering kali pada suatu titik mereka lelah mencari. Mereka mulai menyadari bahwa yang dicari ternyata selalu hadir di sini dan saat ini. Setelah pencarian mencapai klimaksnya, lahirlah titik balik berupa berhentinya pencarian. Bukan karena menemukan semua jawaban, melainkan karena melihat bahwa kehidupan itu sendiri adalah jawabannya.
Pencarian kesadaran dan pencerahan juga sering bergerak dengan pola yang sama. Seseorang mengejar pencerahan, mengejar kesadaran, mengejar pengalaman spiritual yang lebih tinggi. Ia ingin mencapai sesuatu. Ia ingin menjadi sesuatu. Ia ingin memperoleh keadaan tertentu. Namun ketika pengejaran itu mencapai titik tertentu, muncul kelelahan eksistensial. Muncul kesadaran bahwa yang dikejar selama ini justru menjauh karena terus dikejar. Pada titik itulah sering lahir keheningan yang tidak dicari. Kesadaran yang tidak diupayakan. Kehadiran yang tidak dikejar.
Alam juga memperlihatkan pola yang sama. Ulat makan daun dengan rakus. Ia terus makan dan makan. Seolah seluruh hidupnya hanyalah makan. Namun justru karena ia telah menjalani fase itu sepenuhnya, suatu saat ia berhenti. Ia memasuki fase diam sebagai kepompong. Tidak lagi bergerak ke sana kemari. Tidak lagi mengejar daun. Tidak lagi sibuk. Dan justru dari diam itulah lahir titik balik yang besar. Dari kepompong lahirlah kupu-kupu.
Biji-bijian juga demikian. Pada fase tertentu ia tampak kering dan mati. Bahkan semakin mendekati titik balik, semakin kuat kesan bahwa tidak ada kehidupan di dalamnya. Namun justru pada titik paling kering itulah kehidupan baru mulai muncul. Dari kematian lahir kehidupan. Dari akhir lahir awal yang baru.
Pikiran juga dapat diamati dengan cara yang sama. Banyak orang berusaha menghentikan pikiran dengan paksa. Mereka marah kepada pikirannya sendiri. Mereka melawan setiap kemunculan pikiran. Padahal terkadang yang diperlukan bukan peperangan, melainkan pengamatan yang total. Biarkan pikiran menunjukkan seluruh wajahnya. Biarkan ia berputar. Biarkan ia membuat cerita. Biarkan ia menunjukkan seluruh pola dan kebiasaannya. Amati terus. Pada suatu saat, pikiran yang terus diamati akan kehabisan tenaga. Ia seperti api yang kehabisan bahan bakar. Dari puncak overthinking bisa lahir keheningan yang sangat dalam karena pikiran telah memperlihatkan seluruh permainannya.
Dalam pekerjaan dan perjuangan hidup juga demikian. Kerja keraslah ketika memang hidup sedang membawamu ke sana. Jalani sepenuhnya. Rasakan sepenuhnya. Namun suatu saat akan terlihat bahwa kerja keras bukanlah tujuan. Ia hanyalah salah satu fase perjalanan. Ketika seseorang telah melihat seluruh wajah kerja keras, ia mulai memahami seni membiarkan hidup mengalir. Ia mulai memahami bahwa tidak semua harus dipaksa. Tidak semua harus dikendalikan.
Dalam ekonomi dan pencarian materi pun pola itu sering muncul. Banyak orang mengejar kesuksesan, kekayaan, dan kemakmuran. Mereka bekerja keras, membangun usaha, mengembangkan karier, dan mengejar berbagai target. Sebagian akhirnya mencapai apa yang mereka kejar. Namun justru setelah mencapainya mereka mulai melihat bahwa kebahagiaan tidak identik dengan kepemilikan. Setelah mencapai puncak tertentu, lahirlah titik balik berupa kebebasan dari keterikatan terhadap materi. Mereka masih bisa memiliki harta, tetapi tidak lagi dimiliki oleh harta.
Karena itulah ada kisah-kisah spiritual yang terdengar paradoks. Seperti doa yang sering dinisbatkan kepada Kanjeng Nabi, "Ya Allah berikan aku kemiskinan." Bukan karena memuja kemiskinan, melainkan karena tidak takut terhadap kemiskinan. Tidak melarikan diri dari pengalaman hidup apa pun. Tidak menjadikan kondisi tertentu sebagai musuh. Ada pula ungkapan yang berbunyi, "Ya Allah jika aku kafir tambahkan kekafiranku, dan jika aku sesat tambahkan kesesatanku." Jika dipahami secara harfiah tentu terdengar mengejutkan. Namun makna yang ingin ditunjukkan adalah keberanian untuk melihat sesuatu sampai tuntas, sampai akar, sampai hakikatnya, sehingga kebohongan runtuh oleh dirinya sendiri dan kebenaran muncul dengan sendirinya.
Dalam pandangan ini, titik balik lahir bukan karena sesuatu dihentikan setengah jalan, melainkan karena sesuatu telah memperlihatkan seluruh wajahnya. Ketika malam mencapai puncaknya, pagi lahir. Ketika terang mencapai puncaknya, malam datang. Ketika gerak mencapai puncaknya, diam muncul. Ketika pencarian mencapai puncaknya, kehadiran ditemukan. Ketika kelelahan mencapai puncaknya, istirahat lahir. Ketika segala sesuatu telah menunjukkan dirinya secara utuh, maka alam semesta seperti membuka pintu menuju arah yang berlawanan.
Karena itu terkadang kehidupan tidak sedang menghukummu ketika sesuatu terus bergerak menuju puncaknya. Bisa jadi kehidupan sedang membiarkan sebuah siklus menyelesaikan dirinya sendiri. Bisa jadi yang sedang terjadi bukan kesalahan, melainkan proses menuju titik balik. Sebab dalam banyak hal, puncak dan titik balik sesungguhnya adalah satu peristiwa yang sama. Ketika sesuatu benar-benar mencapai klimaksnya, pada saat yang sama benih perubahan sudah mulai lahir di dalamnya.
0 Response to "TITIK KLIMAKS DAN TITIK BALIK"
Post a Comment