Kesadaran atau kehadiran sejati dapat diibaratkan sebagai nyawa, tenaga listrik, atau baterai yang menghidupkan seluruh pengalaman manusia. Kesadaran pada dasarnya tidak memiliki identitas, tidak memiliki kepentingan, tidak memiliki ambisi, dan tidak memiliki tujuan pribadi. Ia hanya hadir, hanya sadar, dan hanya menjadi ruang tempat segala sesuatu muncul dan menghilang. Namun sejak kita lahir dan mulai berinteraksi dengan dunia, otak mulai merekam pengalaman demi pengalaman. Setiap pujian, penghinaan, keberhasilan, kegagalan, rasa sakit, rasa takut, kehilangan, penolakan, dan berbagai peristiwa lainnya disimpan menjadi data. Data-data inilah yang kemudian membentuk apa yang kita kenal sebagai ego, identitas, kepribadian, konsep diri, luka batin, trauma, ambisi, harapan, ketakutan, dan berbagai cerita tentang siapa diri kita.
Jika diperhatikan lebih dalam, ego sebenarnya bukan makhluk hidup. Ego hanyalah kumpulan data dan rekaman masa lalu yang tersimpan di dalam pikiran serta alam bawah sadar. Namun karena data-data tersebut terus aktif dan memengaruhi cara kita berpikir, merasa, dan bertindak, akhirnya ego tampak seperti sesuatu yang hidup. Ia tampak memiliki kemauan sendiri, memiliki tujuan sendiri, bahkan seolah-olah menjadi penguasa dalam diri manusia. Padahal sesungguhnya ego tidak memiliki tenaga untuk hidup sendiri. Sama seperti sebuah aplikasi yang tidak dapat berjalan tanpa listrik, ego juga tidak dapat bergerak tanpa energi dari kesadaran. Ia membutuhkan kehadiran murni sebagai sumber dayanya. Ia membutuhkan perhatian kita sebagai makanannya. Ia membutuhkan identifikasi agar dapat terus mempertahankan keberadaannya.
Di sinilah sesuatu yang sangat halus terjadi. Kesadaran yang sejatinya hanya hadir sebagai saksi mulai ditumpangi oleh berbagai data yang tersimpan di alam bawah sadar. Data-data tersebut selalu menunggu kesempatan untuk muncul. Mereka seperti program yang terus aktif di belakang layar. Ketika ada kejadian yang mirip dengan pengalaman masa lalu, program itu langsung aktif. Ketika seseorang mengalami penolakan, data lama tentang penolakan ikut muncul. Ketika seseorang mengalami penghinaan, data lama tentang penghinaan ikut bangkit. Ketika seseorang mengalami pengkhianatan, data lama tentang luka dan sakit hati kembali bergerak. Lalu data-data tersebut menggunakan energi kesadaran untuk tampil ke permukaan sehingga yang muncul bukan lagi kehadiran yang murni, melainkan kemarahan, kebencian, kekecewaan, ketakutan, kecemasan, dendam, dan berbagai reaksi lainnya.
Ibarat air yang jernih dituangkan ke dalam gelas yang berisi kopi hitam. Air tetaplah air, tetapi tampilannya menjadi hitam karena bercampur dengan kopi. Kesadaran juga demikian. Kesadaran tidak pernah berubah menjadi marah, dendam, atau takut. Kesadaran tetap murni. Namun ketika ditumpangi oleh data-data lama, tampilannya menjadi seolah-olah marah, dendam, takut, dan kecewa. Yang berubah bukan kesadarannya, melainkan isi yang sedang menumpang di dalam kesadaran tersebut. Masalahnya, manusia sering tidak menyadari hal ini. Kita mengira bahwa kemarahan itu adalah diri kita. Kita mengira bahwa ketakutan itu adalah diri kita. Kita mengira bahwa luka batin itu adalah diri kita. Padahal semuanya hanyalah data yang sedang aktif dan sedang menggunakan energi kesadaran untuk mempertahankan keberadaannya.
Karena itulah banyak tindakan manusia yang terlihat sadar, padahal sesungguhnya digerakkan oleh program-program lama yang tersembunyi. Seseorang mungkin bekerja sangat keras untuk menjadi kaya. Dari luar tampak seperti pilihan yang sadar. Namun jika ditelusuri lebih dalam, bisa jadi yang sedang bekerja bukan kesadaran melainkan data masa lalu. Mungkin dulu ia pernah hidup dalam kemiskinan. Mungkin ia pernah dihina karena tidak memiliki uang. Mungkin ia pernah melihat penderitaan orang tuanya dan berjanji tidak ingin mengalami hal yang sama. Pengalaman-pengalaman tersebut tersimpan sebagai data di alam bawah sadar. Data itu lalu menunggu kesempatan untuk menggunakan energi kesadaran. Akibatnya muncullah dorongan yang sangat kuat untuk bekerja, mengejar uang, membuktikan diri, dan mendapatkan pengakuan. Yang bergerak tampaknya adalah kesadaran, padahal yang sedang mengendalikan arah gerak adalah program lama yang tersimpan di bawah sadar.
Inilah yang disebut sebagai tendensi. Kesadaran murni sebenarnya tidak memiliki tendensi. Kesadaran hanya hadir. Tetapi ketika data-data masa lalu menempel pada kesadaran, muncullah kepentingan. Muncullah tujuan psikologis. Muncullah agenda-agenda tersembunyi yang sering kali bahkan tidak disadari oleh pemiliknya sendiri. Kita lalu hidup bukan karena kehidupan ingin bergerak melalui kita, melainkan karena ada sesuatu dari masa lalu yang ingin dipenuhi, diperbaiki, dibalas, dibuktikan, atau disembuhkan. Akibatnya hampir seluruh hidup manusia dipenuhi oleh gerakan-gerakan yang berpusat pada identitas dan bukan pada kehadiran.
Di sinilah muncul apa yang bisa disebut sebagai "aku kecil menumpangi aku besar". Aku besar adalah kesadaran murni, kehadiran yang hidup, ruang yang sadar, dan saksi yang selalu ada sebelum semua identitas muncul. Sedangkan aku kecil adalah kumpulan data, kenangan, pengalaman, label, konsep diri, dan cerita tentang siapa diri kita. Aku kecil tidak bisa hidup sendiri. Ia membutuhkan tenaga dari aku besar. Karena itu ia terus menumpang pada kesadaran. Ia menggunakan daya hidup yang berasal dari Sang Hidup untuk menjalankan tujuan-tujuannya sendiri. Akibatnya kehidupan yang awalnya sederhana berubah menjadi penuh perjuangan. Kehadiran yang awalnya bening berubah menjadi penuh warna. Kesadaran yang awalnya hanya hidup berubah menjadi hidup yang harus berhasil, hidup yang harus kaya, hidup yang harus diakui, hidup yang harus dicintai, hidup yang harus menang, dan hidup yang harus memenuhi berbagai tuntutan lainnya.
Padahal pada hakikatnya, kehidupan tidak membutuhkan semua cerita tersebut untuk tetap berlangsung. Kehidupan sudah bergerak bahkan sebelum identitas terbentuk. Nafas sudah keluar masuk sebelum kita memiliki nama. Jantung sudah berdetak sebelum kita memiliki cita-cita. Kesadaran sudah hadir sebelum kita memiliki konsep tentang diri sendiri. Namun karena terlalu lama hidup melalui data-data masa lalu, kita akhirnya mengira bahwa identitas itulah diri kita yang sesungguhnya. Kita lupa bahwa semua identitas hanyalah tamu yang datang dan pergi di dalam ruang kesadaran.
Ketika seseorang mulai menyadari mekanisme ini, ia mulai melihat bahwa selama ini yang sering mengambil keputusan bukanlah dirinya yang sejati, melainkan kumpulan program lama yang menumpang pada kesadaran. Ia mulai melihat bahwa kemarahan, ketakutan, ambisi, kebutuhan validasi, keinginan membuktikan diri, dan berbagai dorongan psikologis lainnya hanyalah data yang sedang mencari energi untuk tetap hidup. Dari pengamatan inilah muncul kemungkinan untuk kembali pada kehadiran yang murni. Bukan menjadi seseorang yang lebih hebat, bukan menjadi identitas spiritual yang baru, melainkan kembali menjadi kesadaran itu sendiri. Kesadaran yang hanya hadir, hanya hidup, dan hanya mengikuti aliran kehidupan tanpa harus dibelokkan oleh kepentingan-kepentingan yang berasal dari masa lalu. Karena pada akhirnya yang sejati bukanlah cerita tentang diri kita, melainkan ruang sadar yang selama ini menjadi tempat muncul dan lenyapnya semua cerita tersebut.
BAGAIMANA AGAR KESADARAN TETAP MURNI DAN TIDAK TERUS-MENERUS DISABOTASE OLEH DATA MASA LALU
Masalah terbesar manusia bukan karena ia memiliki ego. Selama hidup di dunia, keberadaan data, memori, identitas, dan berbagai rekaman pengalaman memang tidak dapat dihindari. Yang menjadi masalah adalah ketika kita tidak menyadari bahwa data-data tersebut sedang aktif dan sedang menggunakan energi kesadaran untuk kepentingannya sendiri.
Banyak orang mengira bahwa merekalah yang sedang mengamati pikiran. Padahal jika diamati lebih teliti, sering kali justru pikiranlah yang sedang mengamati kita. Data-data yang tersimpan di alam bawah sadar itu tidak benar-benar mati. Mereka terus aktif seperti program yang berjalan di belakang layar. Mereka selalu memindai keadaan. Mereka selalu mencari celah untuk muncul. Mereka selalu menunggu momen yang tepat untuk menggunakan energi kesadaran.
Ketika seseorang pernah mengalami penghinaan, data penghinaan itu tidak hilang. Ia tetap tersimpan. Ketika seseorang pernah mengalami pengkhianatan, data pengkhianatan itu juga tetap ada. Ketika seseorang pernah merasa miskin, tidak dicintai, tidak dihargai, atau tidak diterima, seluruh data itu tetap hidup sebagai rekaman yang tersimpan di dalam sistem psikologis.
Data-data ini bekerja seperti entitas robotik. Mereka memiliki pola yang otomatis. Mereka tidak berpikir secara sadar seperti kesadaran murni. Mereka hanya menjalankan program yang sama berulang kali. Dan karena mereka membutuhkan energi untuk tetap aktif, mereka terus mencari perhatian dari kesadaran.
Mereka menunggu.
Mereka mengamati.
Mereka memperhatikan.
Mereka mencari momen ketika kehadiran mulai muncul.
Lalu ketika kehadiran itu hadir, mereka segera menempel.
Mereka segera menumpang.
Mereka segera menggunakan energi kesadaran tersebut untuk menghidupkan kembali cerita-cerita lama.
Inilah mengapa seseorang yang sebenarnya sedang duduk tenang tiba-tiba dapat marah hanya karena sebuah kata. Mengapa seseorang yang sedang damai tiba-tiba menjadi sedih karena sebuah kenangan. Mengapa seseorang yang sedang hadir di saat ini tiba-tiba terseret ke masa lalu atau berlari ke masa depan.
Bukan karena kesadaran ingin ke sana.
Tetapi karena ada data yang sedang menggunakan kesadaran sebagai kendaraan.
Karena itu langkah pertama untuk menjaga kemurnian kesadaran bukanlah melawan pikiran, melainkan menyadari keberadaan para penumpang tersebut.
Begitu kemarahan muncul, jangan langsung menjadi marah.
Lihat.
Begitu ketakutan muncul, jangan langsung menjadi takut.
Lihat.
Begitu keinginan muncul, jangan langsung mengikutinya.
Lihat.
Begitu dorongan untuk membuktikan diri muncul, jangan langsung mempercayainya.
Lihat.
Sebab pada saat melihat, jarak mulai tercipta antara kehadiran dan data.
Dan selama masih ada jarak, sabotase tidak akan sempurna.
Langkah kedua adalah berhenti memberi identitas pada setiap isi pikiran. Biasanya kita berkata, "Aku marah", "Aku kecewa", "Aku takut", atau "Aku terluka". Padahal yang lebih tepat adalah, "Ada kemarahan yang muncul", "Ada ketakutan yang muncul", atau "Ada luka lama yang sedang aktif". Perubahan kecil ini sangat penting karena secara tidak langsung kita berhenti memberikan seluruh energi kesadaran kepada data tersebut.
Langkah ketiga adalah kembali sesering mungkin kepada pengalaman langsung saat ini. Rasakan nafas. Rasakan tubuh. Dengarkan suara di sekitar. Lihat apa yang ada di depan mata tanpa menambahkan cerita. Kehadiran selalu berada di sini dan saat ini. Sedangkan data selalu hidup dari cerita masa lalu dan masa depan. Semakin kita hadir pada pengalaman langsung, semakin sulit bagi data untuk mengendalikan arah kesadaran.
Langkah keempat adalah berhenti terlalu percaya kepada setiap dorongan yang muncul. Tidak semua dorongan berasal dari kebijaksanaan. Tidak semua keinginan berasal dari panggilan hidup. Tidak semua ambisi berasal dari kehendak Tuhan. Banyak di antaranya hanyalah gema dari pengalaman lama yang belum selesai. Karena itu setiap dorongan perlu diamati terlebih dahulu sebelum diikuti.
Tanyakan dengan jujur, "Apakah ini benar-benar gerakan kehidupan atau hanya gerakan luka lama?"
"Apakah ini panggilan yang alami atau hanya kebutuhan untuk membuktikan sesuatu?"
"Apakah ini gerakan cinta atau gerakan ketakutan?"
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan membantu memisahkan antara kehadiran dan program otomatis.
Langkah berikutnya adalah memahami bahwa hidup tidak pernah benar-benar bergerak oleh ego. Ego hanya mengklaim gerakan yang sudah terjadi. Jantung berdetak bukan karena ego. Nafas bergerak bukan karena ego. Matahari terbit bukan karena ego. Hujan turun bukan karena ego. Bahkan sebagian besar proses tubuh berlangsung tanpa campur tangan ego sedikit pun.
Artinya sejak awal kehidupan memang sudah bergerak dengan sendirinya.
Kita lebih mirip wayang daripada dalang.
Kita lebih mirip ombak daripada lautan.
Kita lebih mirip daun yang mengikuti angin daripada pengendali angin itu sendiri.
Ketika hal ini mulai dipahami, perlahan muncul kerendahan hati yang alami. Kita tidak lagi merasa harus mengendalikan semuanya. Kita tidak lagi merasa harus mengatur seluruh jalan kehidupan. Kita mulai melihat bahwa kehidupan sudah bergerak jauh sebelum konsep "aku" terbentuk.
Pada titik ini kehadiran menjadi lebih ringan.
Kita tidak lagi sibuk menjadi pengendali.
Kita menjadi saksi.
Kita menjadi ruang.
Kita menjadi tempat kehidupan berlangsung.
Dan semakin sedikit identifikasi terhadap data-data lama, semakin sedikit pula kesempatan bagi mereka untuk menumpang pada kesadaran.
Lambat laun data-data itu tetap ada, tetapi kehilangan tenaga.
Mereka tetap tersimpan, tetapi tidak lagi berkuasa.
Mereka tetap muncul, tetapi tidak lagi dipercaya.
Mereka tetap berbicara, tetapi tidak lagi diikuti.
Yang tersisa hanyalah kehadiran yang sederhana, jernih, dan hidup.
Kehadiran yang tidak berusaha menjadi apa-apa.
Kehadiran yang tidak memiliki agenda tersembunyi.
Kehadiran yang tidak sedang mengejar identitas baru.
Kehadiran yang hanya sadar bahwa kehidupan sedang terjadi.
Dan dalam kesadaran itulah, wayang kembali mengikuti gerakan Sang Dalang, bukan lagi mengikuti bisikan para penumpang yang selama ini mencoba mengambil alih panggung kehidupan.
0 Response to "KETIKA EGO MENUMPANGI KESADARAN"
Post a Comment