KETIKA KITA SUDAH MENGIKUTI SEMUANYA, TETAPI TETAP DIANGGAP SALAH


KETIKA KITA SUDAH MENGIKUTI SEMUANYA, TETAPI TETAP DIANGGAP SALAH

Pernahkah kita bertemu dengan seseorang yang sangat kita hormati, entah itu guru, orang tua, bos, juragan, atasan, mentor, pasangan, atau bahkan seseorang di media sosial, yang kita sudah berusaha mengikuti apa yang dia mau, tetapi tetap saja kita dianggap salah? Kita sudah mengikuti nasihatnya, mengikuti teorinya, mengikuti cara berpikirnya, bahkan mencoba membenarkan apa yang menurutnya benar. Kita sudah mengalah ketika dia ingin kita mengalah, kita sudah mendengarkan ketika dia ingin didengarkan, kita sudah memperbaiki ketika dia mengatakan ada yang salah. Tetapi anehnya, setelah semua itu dilakukan, ternyata masih ada lagi yang dianggap kurang.

Kita perbaiki lagi, masih salah. Kita ikuti lagi, masih kurang. Kita mengiyakan, masih dicari kesalahannya. Kita membenarkan pendapatnya, ternyata masih ada yang dipersoalkan. Kita mencoba tidak berdebat, dia justru mencari titik untuk berdebat. Kita mencoba mengikuti keinginannya, muncul keinginan lain. Sampai akhirnya kita bertanya dalam hati, **"Sebenarnya saya harus bagaimana supaya dianggap benar?"** Karena masalahnya sudah bukan lagi soal kita tidak mau belajar atau tidak mau mengikuti. Kita sudah mencoba. Yang melelahkan adalah ketika ukuran "cukup" tidak pernah ada.

**Di situlah kita mulai masuk ke persoalan yang lebih dalam: ketika bukan lagi sekadar "saya kurang mampu", tetapi kita dibuat merasa bahwa apa pun yang kita lakukan tetap salah.**

Hal seperti ini bisa terjadi pada seorang guru. Kita menghormati guru tersebut, lalu kita mengikuti semua yang diajarkannya. Tetapi mungkin dia lupa bahwa kemampuan murid tidak harus langsung sama dengan kemampuan gurunya. Guru sudah belajar bertahun-tahun, sementara murid baru mulai. Guru memiliki pengalaman, sedangkan murid masih membangun pengalaman. Guru mungkin mampu melihat banyak hal sekaligus, sementara murid baru mampu memahami beberapa bagian. Jadi ketika murid belum mampu menghasilkan sesuatu seperti gurunya, bukan otomatis berarti murid tidak serius.

Hal yang sama bisa terjadi antara bos dan karyawan. Seorang bos mungkin mampu menyelesaikan pekerjaan dengan cepat karena dia sudah bertahun-tahun mengerjakannya. Tetapi karyawan yang baru belajar tentu membutuhkan waktu. Standar yang tinggi boleh saja, tetapi standar tetap harus melihat kemampuan, waktu, sumber daya, dan proses orang yang mengerjakannya. **Kemampuan yang belum sama tidak berarti kemauan yang tidak ada.**

Orang tua juga bisa melakukan hal yang sama tanpa sadar. Orang tua berkata, "Dulu saya bisa, masa kamu tidak bisa?" Padahal anak bukan salinan dari orang tuanya. Zaman berbeda, keadaan berbeda, kesempatan berbeda, karakter berbeda, dan kapasitas berbeda. Maka ketika seseorang terus dibandingkan dengan kemampuan orang lain, dia bisa tumbuh dengan perasaan bahwa dirinya selalu kurang, padahal sebenarnya dia sudah berusaha keras.

Masalah yang lebih rumit terjadi ketika kita bertemu dengan seseorang yang ekspektasinya selalu berubah. Hari ini dia meminta A, kita berikan A. Besok ternyata A belum cukup dan dia meminta B. Kita berikan B, muncul C. Kita ikuti C, muncul D. Akhirnya kita tidak lagi tahu apakah yang sedang kita lakukan adalah memperbaiki diri atau hanya mengejar seseorang yang garis standarnya terus dipindahkan.

Ini yang membuat kita lelah. Bukan karena kita tidak mau menjadi lebih baik, tetapi karena **seberapa pun kita berusaha, kita tidak pernah diberi kesempatan untuk merasa cukup.**

Hal seperti ini juga sering terlihat di media sosial. Ada netizen yang memberikan komentar dan kita coba tanggapi dengan baik. Dia bilang kita salah, kita jelaskan. Dia tidak terima, kita mengiyakan bagian yang memang masuk akal. Masih tidak terima. Kita membenarkan lagi. Masih dicari kesalahannya. Kita bahkan mengikuti arah pembicaraannya agar tidak terjadi benturan. Tetapi tetap saja dia mencari titik lain untuk diperdebatkan.

Kita sudah mengatakan, "Iya, saya paham maksud Anda." Masih dipersoalkan. Kita sudah berkata, "Baik, saya setuju di bagian itu." Masih dicari celahnya. Kita sudah mencoba mengikuti apa yang dia mau dalam percakapan, tetapi ternyata tujuan percakapannya bukan mencari titik temu. **Dia seperti membutuhkan benturan itu sendiri.**

Pada kondisi seperti ini, kita harus memahami bahwa tidak semua perdebatan memang bertujuan mencari kebenaran. Ada perdebatan yang memang ingin menemukan solusi, tetapi ada juga perdebatan yang hanya ingin mempertahankan konflik. Kalau seseorang sudah tidak mencari pemahaman tetapi terus mencari kesalahan, maka sebanyak apa pun kita menjelaskan, pembicaraan itu bisa tidak pernah selesai.

Karena itu, jangan mengira bahwa kalau kita terus mengalah, terus mengiyakan, terus membenarkan, akhirnya orang tersebut pasti berhenti. Belum tentu. Kalau yang dicari memang bukan penyelesaian, kita bisa mengiyakan seratus kali dan tetap akan ditemukan kesalahan yang ke-seratus-satu.

Hal yang sama bisa terjadi dalam hubungan dengan pasangan. Kita mencoba menjadi seperti yang dia mau. Kita mengubah cara bicara, menyesuaikan sikap, mengurangi hal yang tidak dia sukai, dan berusaha memahami perasaannya. Tetapi ketika semuanya dilakukan, masih muncul persoalan baru. Kita akhirnya merasa seperti sedang menghadapi teka-teki yang tidak pernah selesai. Kita tidak tahu sebenarnya apa yang dia inginkan karena setiap kali kita merasa sudah memahami, ternyata ada sisi lain yang muncul.

Kalau hubungan membuat kita terus-menerus bertanya, "Sebenarnya saya salah di mana?" lalu kita terus mengubah diri hanya untuk mendapatkan ketenangan yang tidak pernah datang, maka kita perlu berhenti sejenak. Bukan untuk langsung menyalahkan orang tersebut, tetapi untuk melihat apakah hubungan itu memang memiliki komunikasi yang jelas atau justru membuat kita terus hidup dalam kebingungan.

Kita juga perlu hati-hati dengan istilah seperti "orang gila". Jangan digunakan untuk mendiagnosis atau memberi label kepada orang lain. Tetapi sebagai bahasa kiasan, ada satu hal yang menarik: **kadang kita merasa bertemu dengan orang yang kacau karena kita sendiri masih terbiasa berada dalam pola yang kacau.**

Kita terbiasa dengan drama, sehingga ketenangan terasa membosankan. Kita terbiasa dengan orang yang tarik-ulur, sehingga hubungan yang jelas terasa asing. Kita terbiasa dengan konflik, sehingga perbedaan kecil terasa seperti sesuatu yang harus diperjuangkan. Kita terbiasa mengejar pengakuan, sehingga kita terus berusaha membuktikan diri kepada orang yang tidak pernah merasa puas.

Maka ketika kesadaran kita mulai tumbuh, sesuatu berubah. Kita mulai sadar bahwa tidak semua komentar harus dijawab. Tidak semua orang harus diyakinkan. Tidak semua kritik harus diikuti. Tidak semua tuntutan harus dipenuhi. Tidak semua orang harus dibuat puas.

Kita mulai bisa membedakan antara **orang yang benar-benar ingin kita berkembang** dengan orang yang hanya ingin kita mengikuti dirinya. Guru yang baik tidak hanya meminta muridnya menjadi seperti dirinya, tetapi membantu murid menemukan kemampuan dirinya sendiri. Atasan yang baik tidak hanya menuntut hasil, tetapi juga memahami proses. Pasangan yang sehat tidak membuat kita terus menebak-nebak apa yang salah. Bahkan dalam diskusi di media sosial, orang yang benar-benar ingin berdiskusi akan mampu menerima ketika kita sudah menjelaskan, mengiyakan, atau bahkan berbeda pendapat tanpa harus terus mencari pertengkaran baru.

Pada akhirnya, mungkin memang ada kesalahan dalam diri kita. Kita tidak perlu merasa selalu benar. Kita tetap harus mau belajar dan menerima kritik. Tetapi kita juga perlu berani bertanya: **"Apakah saya sedang memperbaiki diri, atau saya sedang berusaha memenuhi ekspektasi seseorang yang memang tidak pernah selesai?"**

Karena dua hal itu berbeda.

Kalau kita memang salah, perbaiki. Kalau kita belum mampu, belajar. Kalau kita belum memahami, bertanya. Tetapi kalau kita sudah berusaha, sudah mendengarkan, sudah memperbaiki, sudah mengiyakan, sudah membenarkan, bahkan sudah mengikuti arah yang diminta tetapi orang tersebut tetap mencari kesalahan baru, mungkin masalahnya bukan lagi pada seberapa keras kita berusaha.

Mungkin kita hanya sedang berada di hadapan seseorang yang **tidak pernah memiliki titik cukup.**

Dan kita tidak harus menghabiskan hidup untuk mengejar titik cukup milik orang lain.

Sebab menjadi waras bukan berarti kita tidak pernah salah. Menjadi sadar bukan berarti kita selalu benar. Menjadi dewasa berarti kita tahu kapan harus memperbaiki diri dan kapan harus berhenti mengejar pengakuan dari orang yang memang tidak akan pernah puas.

Karena pada akhirnya, **kalau kita sudah mengikuti semuanya tetapi tetap dianggap salah, mungkin yang perlu diubah bukan lagi diri kita, melainkan keberanian kita untuk berhenti mengikuti sesuatu yang memang tidak pernah punya batas.**

0 Response to "KETIKA KITA SUDAH MENGIKUTI SEMUANYA, TETAPI TETAP DIANGGAP SALAH"

Post a Comment