KENAPA RUMAH TANGGA KITA SERING RIBUT DAN TIDAK TENANG*

KENAPA RUMAH TANGGA KITA SERING RIBUT DAN TIDAK TENANG*

Kenapa berumah tangga sering ribut! 
Bukankah tujuannya agar hidup lebih tenang, lebih saling menguatkan, lebih pulang?  
Tapi kenapa kenyataannya sering sebaliknya.  
Sedikit saja ada kata yang tidak pas, langsung panas.  
Sedikit saja ada sikap yang tidak sesuai harapan, langsung kecewa.  
Sedikit saja ada rasa tidak nyaman, langsung ingin lari, ingin menyalahkan, ingin mencari yang lain.

Bukan karena pasangannya jahat.  
Bukan karena cintanya sudah habis.  
Tapi karena kita terlalu reaktif terhadap rasa.

Kita hidup seolah diperintah oleh sensasi.  
Ada rasa tidak nyaman, langsung bereaksi.  
Ada pikiran menolak, langsung dipercaya.  
Ada penolakan kecil di dada, langsung kita kejar dengan komentar, dengan pembelaan, dengan ngambek, atau dengan membanding-bandingkan pasangan dengan orang lain.

Padahal kalau kita jujur, itu semua hanyalah rasa.  
Hanya sensasi yang lewat di tubuh.  
Hanya pikiran yang muncul di kepala.  
Bukan kebenaran mutlak.  
Bukan perintah yang harus kita ikuti.

Masalahnya, kita terlalu serius menanggapi setiap rasa.  
Kita kira: "Kalau aku tidak nyaman berarti dia salah."  
Kita kira: "Kalau ada penolakan berarti aku harus pergi."  
Akhirnya kita tidak pernah betah. Tidak pernah selesai dengan diri sendiri. Dan rumah tangga pun jadi tempat pelampiasan, bukan tempat pulang.

*LALU KUNCINYA DI MANA? KUNCINYA ADALAH MEDITASI DALAM HUBUNGAN*

Caranya sederhana, tapi butuh latihan:

Setiap kali muncul rasa tidak nyaman terhadap pasangan,  
setiap kali muncul penolakan, kesal, kecewa, ingin protes,

JANGAN BURU-BURU BEREAKSI.

Cukup lakukan 3 hal ini:

*1. Amati*  
Sadarilah. "Oh, ada rasa tidak nyaman di dada."  
"Oh, ada pikiran menolak di kepala."  
Lihat saja. Jangan dilawan.

*2. Rasakan*  
Rasakan sensasi itu seutuhnya. Perihnya, panasnya, sesaknya.  
Tanpa menilai. Tanpa mengomentari.  
Tanpa buru-buru mencari pelarian atau mencari yang lain.  
Terima apa adanya. Sakit ya sakit. Tidak nyaman ya tidak nyaman.

*3. Jadilah Saksi yang Diam*  
Tidak perlu refleksi panjang. Tidak perlu langsung menyelesaikan.  
Cukup jadi saksi. Diam. Hadir.  
Biarkan rasa itu hidup, lalu mati dengan sendirinya.

Karena hukumnya begitu.  
Segala rasa kalau tidak diberi makan dengan reaksi, dia akan habis sendiri.

Dan yang ajaibnya:  
Ketika kamu tidak lari dari rasa kotor itu,  
ketika kamu mau merasakan si tanpa melawan,  
rasa itu akan berubah sendiri.  
Dari rasa menolak menjadi penerimaan.  
Dari sensasi keruh menjadi jernih.  
Dari dingin menjadi hangat.  
Dari benci menjadi cinta lagi.

Bukan karena pasangannya tiba-tiba berubah.  
Tapi karena kamu berhenti dikendalikan oleh sensasi.  
Kamu kembali jadi tuan atas dirimu.

Rumah tangga yang langgeng bukan rumah tangga yang tidak pernah ada masalah.  
Tapi rumah tangga yang dua orang di dalamnya sudah belajar:  
"Ini hanya rasa. Ini akan lewat. Aku tidak perlu bereaksi, apalagi ingin ganti. 

Latih ini tiap hari. 10 detik saja cukup.  
Lama-lama kamu akan lihat:  
Keributan berkurang.  
Tuntutan berkurang.  
Penerimaan bertambah.  
Dan cinta yang tadinya capek, jadi hidup lagi.

Karena cinta sejati bukan tidak pernah marah.  
Cinta sejati adalah mau tetap tinggal dan menyaksikan,  
sampai rasa buruk itu berubah jadi kejernihan.

Mau coba mulai dari hari ini?  
Pas ada rasa tidak nyaman berikutnya, tahan 1 menit.  
Jangan komentar. Jangan pergi. Amati saja.  
Lihat apa yang terjadi setelahnya.

0 Response to "KENAPA RUMAH TANGGA KITA SERING RIBUT DAN TIDAK TENANG*"

Post a Comment